Wednesday, April 18, 2018

FROM INDONESIA TO TIMOR LESTE WITH TOYOTA



Prolog
Mobil lawas itu memasuki parkir depan Gedung Krida Toyota NTB. Melihatnya mengingatkan saya akan kenangan lama, sebuah Kijang Toyota yang pernah dimiliki oleh orang tua. Ya, orang tua saya pernah memiliki mobil dengan jenis yang sama, dibeli oleh almarhum Bapak  melalui acara lelang di kantornya. 
Taman Mini Indonesia Indah adalah tempat yang paling sering kami kunjungi, suara berderak dari rongga kaca jendela  selalu menemani perjalanan, maklumlah namanya juga mobil tua.
Namun, kali ini lain cerita, mobil lawas di atas mungkin hanya tahun keluarannya saja yang sama dengan milik orang tua saya, dari sisi ketangguhan jelas sangat berbeda, karena mobil pabrikan tahun 1979 tersebut  telah membuktikan, bahwa tua belum tentu tidak perkasa, mulai dari Jakarta hingga Timor Leste negeri tetangga, mampu dijelajahinya. Mau tau bagaimana serunya, berikut cerita selengkapnya!


Beyond Wonderful Indonesia with Toyota
Kamis 29 Maret 2018, 17 orang yang tergabung dalam tiga komunitas mobil dengan merk Toyota mulai melakukan journey. Velozity, TKCI, dan Tosca  itulah nama ketiga komunitas tersebut, dengan menggunakan 2 unit Toyota Avanza Veloz, 1 unit Toyota Kijang tahun 1980, 1 Unit Toyota Sienta, mereka memulai perjalanan dari Jakarta menuju negeri tetangga, Timor Leste. Perjalanan dengan jarak lebih dari 8000Km dengan rute Jakarta – Bali –Lombok – Sumbawa – Pulau Moyo – Bima – Sape - Labuhan Bajo – Ende – Larantuka -  Kupang – Atambua – Dili ini mereka tempuh dalam waktu 21 hari (pulang pergi). Gila, sungguh luar biasa! Membayangkannya saja bagi saya sudah sangat menggairahkan, apalagi mengalaminya secara langsung. For Your Information, perjalanan ini adalah yang ke-5 kalinya diadakan oleh komunitas-komunitas ini. Pada tahun – tahun sebelumya mereka sudah melaksanakan kegiatan serupa dengan tujuan berbeda. Mulai dari Bali, Sabang (Pulau We), Sulawesi, Brunei dan yang terakhir sekarang ini, negeri tetangga Timor Leste



Krida Toyota Melepas Tiga Komunitas Kembali Ke Jakarta
Selasa 17 April 2018, 3 unit mobil yang tergabung dalam journey ini tiba di Krida Toyota NTB setelah sebelumnya melakukan perjalanan non stop dari Timor Leste, sementara 2 unit mobil lainnya telah tiba lebih dulu dan melakukan kegiatan Explore Lombok bersama komunitas yang ada di pulau ini. Dukungan dari Krida Toyota jelas terlihat pada kegiatan ini, Tim ini disambut dengan meriah melalui pemberian kain songket dan suguhan tari tradisional khas Suku Sasak, yang kemudian dilanjutkan oleh sambutan dari owner Krida Toyota NTB. 

Setelah acara seremonial, sessi berikutnya adalah mendengarkan kisah perjalanan tim ini. Hal menarik dari apa yang mereka sampaikan adalah, bahwa tidak ada kerusakan berarti yang dialami oleh kendaraan mereka. Beratnya rute, terutama di daerah NTT juga menjadi sebuah tambahan informasi bagi kami yang hadir. Selain itu mereka juga menceritakan mengenai betapa indahnya negeri kita tercinta ini. Hmmm, wonderful Indonesia, I Love You Full pokoknya.


Acara ramah tamah selesai, kemudian dilanjutkan pelepasan tim secara simbolis untuk kembali ke Jakarta. Ah, sungguh acara yang sangat mengesankan, mendapatkan informasi  mengenai negeri tercinta dan merasakan atmosfir dari mereka yang berani menjelajahi nusantara. Sungguh, acara ini menambah rasa cinta terhadap negeri . Terimakasih Krida Toyota yang sudah memberikan kesempatan kepada saya untuk berpatisipasi.

Epilog
Setiap perjalanan pasti menghadirkan kisah, semoga setiap perjalanan yang kita lakukan menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat pada umumnya dan pribadi kita pada khususnya.

Explore Lombok credit by IG: @velozity




Explore Lombok credit by IG: @velozity






sekali - kali narsis bolehlah :)





Wednesday, February 14, 2018

Tentang Dilan dan Libur Lebaran


 Monas

Tentang Dilan
Jangan rindu
Ini berat
Kau tak akan kuat
Biar aku saja

Ada yang tau quote ini? Bagi mereka yang kekinian otomatis pasti tau lah ya, secara quote ini sempat viral minggu – minggu belakangan. Dilan, dialah sang pemilik quote, tokoh dalam novel karangan Pidi Baiq dengan tema percintaan anak SMA era tahun 1990an  yang kemudian di filmkan dan booming hingga mendarah daging.
Terus apa hubungannya Dilan dengan libur lebaran? Apakah saat Dilan libur lebaran dia datang ke rumah orangtua Milea dan melamarnya?
Pada dasarnya nggak ada hubungannya sih, jelas Dilan tidak pergi melamar Milea, ini hanya bisa-bisaan saya aja cari momentum yang pas, biar tulisan ini dapet viewers yang banyak, he.
Trully,  sebenarnya sayalah yang datang melamar istri saya ketika libur lebaran kemarin. Saya memang bukan Dilan, tapi saya hidup di eranya, masa di mana menunggu surat cinta balasan melalui perantaraan teman membuat deg-degan, atau saat naik angkot bersama gebetan jantung jadi dag dig dug tak karuan, dan puluhan moment lainnya yang bila diingat kembali akan membuat diri merasa malu sendiri, kok bisa ya saya dulu semacam itu.
Jadi, sekali lagi saya tekankan, ini adalah sebenar-benarnya kisah tentang saya, bagaimana saya menjalani libur lebaran dalam suasana suka cita dan akhirnya menikahi istri saya tanpa proses pacaran. Penasarankah? Bagi yang penasaran silahkan dilanjut membacanya, semoga ada ibrah yang bisa didapat, bagi yang mau left juga monggo, tapi baca dulu kisahnya sampai habis (sama aja ya).

Proses Perkenalan
Pagi hari, tanggal 13 bulan Mei tahun 2017, jam menunjukkan pukul 09.40 WITA, saya lupa sedang apa saat itu, tetiba smartphone saya berbunyi, kucluk, begitu bunyinya. Sebuah pesan dari seorang teman di masa SMP  bertanya perihal Pulau Lombok, tempat saya berdomisili. Ini lumrah terjadi seiring dengan makin dikenalnya keindahan Lombok, saya sering mendapatkan pertanyaan dari teman-teman yang berdomisili di daerah-daerah lain. Ketika obrolan tentang Lombok selesai, sekonyong-konyong koder ybs menanyakan status pernikahan saya dan kemudian mencoba mengenalkan saya dengan seseorang yang ternyata adiknya sendiri. Karena status saya saat itu memang jomblo fisabilillah (memperhalus istilah jomblo akut, he), maka saya terima tawaran perkenalan tersebut, tentu saja dengan niatan untuk menikah bila merasa ada kecocokan.
Setelah saya diberikan nomor si do’i, sayapun mulai aktif mengirimkan pesan, bertanya segala sesuatu tentangnya pun sebaliknya. Hal ini berlangsung kurang dari dua bulan, dan Alhamdulillahi Rabbil’aalamiin dengan mengucapkan Basmalah, kami mantapkan tekad untuk coba menapak ke tahap berikutnya.

Merajut Impian Saat Libur Lebaran
Perantau, mungkin itu predikat yang tepat untuk saya (mungkin loh ya). Seperti lazimnya masyarakat Indonesia yang jauh dari keluarga, libur lebaran adalah saat yang tepat mengunjungi keluarga, sungkem dengan orang tua, saudara, sahabat dan handai tolan, itu pula yang biasa saya lakukan. Namun, libur lebaran saat itu terasa lebih istimewa, saya akan berjumpa langsung dengannya. Dia yang akan mengisi ruang hati, temani sepi, berbagi bahagia selamanya. Melalui pesan via smartphone kami sepakati bahwa perjumpaan akan dilakukan H-1 lebaran.
Sabtu 24 Juni 2017 , matahari belum lagi tinggi, dengan mengucap Basmalah, saya mantapkan langkah menuju rumah orangtuanya, dengan  harapan tersemat di dada, bahwa apa yang saya ikhtiarkan mendapatkan ridho dan berkah, dari Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa. Perjumpaan ini adalah kali yang pertama, disaksikan oleh orang tua dan kakaknya. Deg-degan, itu pasti,  tapi Alhamdulillahi Rabbil’aalamiin dengan kuatnya tekad, hal itu tidak menjadi kendala, obrolanpun mengalir bagai air.
Setelah kurang lebih 1 jam percakapan, saya pun pamit undur diri, tentu saja dengan berkeyakinan hati, bahwa dialah yang nanti menjadi penyeimbang dalam hidup ini, bahwa kami akan bersama selamanya, hingga Jannah nanti (Insyaa Allah, Aamiin Yaa Rabb).
Sesampainya di rumah, kami kembali saling mengirimkan pesan, mencoba saling menguatkan dan meyakinkan. Akhirnya, setelah beberapa hari percakapan saling menguatkan dan meyakinkan, didapat kesepakatan bahwa saya akan kembali untuk melamarnya secara pribadi sekembalinya dia dari mudik.
Jum’at 30 Juni 2017, matahari sepenggalan galah, saya kembali melangkah, dengan niat suci, meminta persetujuan orangtuanya  untuk menjadikannya calon istri. Kedatangan saya di sambut dengan hangat, obrolan lancar bercerita seputar perjalanan mudik keluarganya. Namun tetiba, di saat obrolan berlangsung suasana menjadi hening, hati saya pun membatin, inilah saatnya untuk utarakan itikad baik. Kata “ya” yang terucap dari mulut orang tuanya membuat hati ini terasa lega. Akhirnya  satu tahap terlewati. Alhamdulillahi Rabbil’aalamiin.
Sepulang dari rumahnya, saya umumkan kabar gembira ini kepada keluarga, terutama Ibunda. Ya, ihwal kedekatan saya dengan si dia memang tidak saya umumkan sebelumnya, ini saya lakukan karena tidak ingin keluarga terlalu banyak berharap sebelum semuanya pasti. Ketika kepastian sudah saya dapat baru saya akan bermaklumat, begitu fikir saya waktu itu.

Bersepeda Gila di Ibukota
“Kak, ayo kita sepeda’an hari Minggu (Car Free Day)” , sebuah pesan masuk dari si dia. Saya bingung harus menjawab apa, menolak takut ybs tersinggung, menerima takut hubungan ini ternodai, agak alay memang jika mengganggap hubungan akan ternoda hanya karena bersepeda, apalagi kami tidak berboncengan. Namun sejatinya saya hanya berusaha menjaga hubungan ini tetap suci, saling menjaga diri hingga tiba waktunya nanti. Setelah melalui perenungan panjang, saya putuskan untuk mengiyakan ajakan tersebut, dengan syarat posisi saya harus selalu berada di depannya selama berkendara (walaupun akhirnya pada beberapa moment si dia berada di depan saya). Saya bukan sok suci, sok alim atau apalah. Dengan masa lalu yang lumayan mengharu biru, saya hanya berusaha menjadi pribadi yang lebih baik menurut agama yang saya anut.

Minggu subuh, Sang Surya belum menampakkan hidungnya, kami sudah mulai mengayuh sepeda. Awalnya saya mengira jarak yang akan kami tempuh dekat, ternyata oalah, kami bersepeda kurang lebih 25 Km. Rute yang kami tempuh tidak tanggung-tanggung, berawal dari Perumnas Klender Jakarta Timur melintasi Rawamangun, Tugu Proklamasi hingga tiba di Bundaran HI untuk makan pagi. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju masjid Al-Azhar di Jakarta Selatan. Perjalanan pulang kami putuskan melewati Sudirman lalu masuk ke arah Manggarai kemudian memutar ke Tebet dan berakhir di jalur BKT.  Hufffht, cape deh.
 Untuk mereka yang hoby bersepeda hal ini mungkin biasa saja. Tapi untuk saya, momen ini terasa gila, ampunnya tak tertahankan, pegal terasa di seluruh badan. Namun itu tidak saya tunjukkan, gengsilah, masa kesan pertama terlihat lemah, he.
Ada ujar-ujar lama mengatakan, bila ingin mengetahui karakter asli seseorang, lakukanlah perjalanan bersama yang melelahkan, di saat lelah itulah maka karakter asli akan terlihat. Itu pula yang terjadi pada episode perjalanan bersepeda gila saya. Dalam perjalanan pulang, lelah mulai terasa, di sanalah sifat asli muncul, dan dari sanalah kami bisa saling mengoreksi dan instropeksi. Saya bersyukur, tak perlu waktu bertahun-tahun untuk mengetahui karakter orang yang akan saya nikahi, cukup satu hari, ya cukup satu hari dengan cara bersepeda gila di ibukota.

Lamaran dan Menikah
Libur telah usai, saya pun harus kembali menjalani aktivitas, namun tekad dalam hati untuk mempersunting si dia sudah begitu kuat. Setelah beberapa kali rembug, akhirnya disepakati lamaran oleh keluarga (saya tidak hadir) dilangsungkan pada awal September, dan syukurlah semua berjalan lancar, dan waktu itu disepakati pernikahan akan dilangsungkan tanggal 07 Oktober 2017. Alhamdulillahi Rabbil’aalamiin semua berjalan lancar. Saya dan Umi Kulsum akhirnya resmi menjadi pasangan suami istri. Semoga abadi…
Aamiin Yaa Rabb...



Dilan,
Rindu itu berat
Apalagi bila diiringi syahwat
Terutama bila kata SAH belum kau semat
Karena bisa jadi akan berujung maksiat



 oh iya berbicara tentang liburan silahkan klik link ini, keren abis guys.

Wednesday, November 1, 2017

Diskon Besar, Inovasi Tiada Henti dari Blue Bird Grup, Lombok Taksi

H-2
“Hari apa, kapan dan di mana acaranya?”  Itu pertanyaan saya kepada salah seorang senior di dunia  perbloggeran  lewat jaringan pribadi ihwal kegiatan ini. Omelan pun akhirnya datang bertubi karena malas menyimak obrolan di grup. Efek males manjat ketika isi chat grup melebihi 50 (lima puluh) percakapan  membuat saya terkadang ketinggalan berita penting dalam grup. Jadi ya, beginilah akibatnya.
Untunglah senior saya ini penyabar, baik hati, tidak sombong n doyan ngemil. Dengan sikap mengayomi dan welas asih, dia membimbing saya menuju jalan yang lurus, jalan blogger, menjadi blogger yang sebenar-benarnya blogger atau blogger kaffah istilah keren buatan saya, he, apa coba. Intinya senior ini mengingatkan saya untuk fokus buat anak, eh. Maksud saya, beliau mencoba menanamkan untuk fokus bila mengerjakan/melakukan sesuatu.

Hari H
Ba’da Maghrib, Selasa 31 Oktober 2017. Dari Ampenan, saya larikan motor dengan ngebut yang pelan-pelan menuju arah timur. Saya takut akan terlambat menghadiri kegiatan ini, saya terobos lampu merah ketika lampunya menyala hijau. Kurang lebih 10 menit kemudian saya pun tiba di lokasi, ketakutan saya akan terlambat membuat saya terburu-buru tapi selow  memasuki hotel, menaiki lift menuju roof top, tempat kegiatan ini dilaksanakan yaitu Sky Resto Hotel Golden Palace Mataram.
Alhamdulillah ya, tetiba saya di sana ternyata lokasi masih sepi, baru terlihat 3 (tiga) orang blogger senior di sana. Saya pun melihat jam, waktu sudah menunjukkan lewat pukul 19.00, tapi kok kenapa sepi ya, fikir saya. Astaga, saya lupa, ini Indonesia, negara di mana keterlambatan merupakan hal yang biasa, he. Tapi itu tidak berlangsung lama, belumlah  sepeminuman teh, lokasi mulai ramai dipenuhi tamu undangan, saya bersama 15 blogger senior saya, 8 General Manager hotel, dan tentu saja rombongan pimpinan Lombok Taksi (Blue Bird Group).
credit by: Alfian Hoki

Penandatanganan MoU antara Lombok Taksi dengan delapan buah hotel yang ada di Lombok. Wow, Marvelous, inovasi tiada henti dari Lombok Taksi memang semakin tak terkendali, setelah sebelumnya melakukan MoU dengan beberapa pihak, antara lain Sasaku,  Lombok Elephant  Park, Inul Vista, The Garden Restaurant, dll, kini tidak tanggung-tanggung, delapan hotel langsung di ajaknya bekerja sama. Sungguh pencapaian yang luar biasa.
Siapakah yang diuntungkan dari kerjasama ini?
Jawabannya sudah pasti konsumen,  berikut variasi potongan harga yang akan didapatkan bagi mereka yang menginap di salah satu dari delapan hotel tersebut:  
1.    Living Asia
Room : 20%  (best available rate)
Spa     : 10%
2.    Holiday Resort
Room       : 20%
F&B         : 15%
Spa          : 40%
Laundry  : 25%
3.    Golden Palace
Room      : 55% (Publish Rate)
F&B         : 15%
Spa          : 15%
Karaoke  : 15%
4.    DMax
Room      : 40% (Publish Rate)
F&B         : 10%
Spa          : 20%
5.    Lombok Astoria
Room      : 53%  (Publish Rate)
F&B         : 20%
6.    Lombok Raya
Room      : 20 – 45%  (Publish Rate)
7.    Lombok Plaza
Room      : 40%  (Publish Rate)
F&B         : 10%
Karaoke  : 15%
8.    Aston Inn
Room      : 50%  (Publish Rate)
F&B         : 15%
Bagaimana, sungguh luar biasa bukan? Lalu bagaimana caranya agar konsumen bisa mendapatkan diskon ini? Caranya gampang,
  1. Unduh aplikasi My Blue Bird
  2. Gunakan aplikasi tersebut untuk menuju lokasi hotel yang ada dalam daftar di atas.
  3. Tunjukkan riwayat perjalananmu (dalam aplikasi tersebut) ke front office, resepsionis di hotel tersebut.
Ayo, disegerakan, jadikan liburan anda berkesan.
Oh iya, terkait dengan MoU ini, kami para blogger mendapatkan kehormatan untuk menginap di hotel-hotel yang tersebut di atas, dan saya mendapatkan kesempatan untuk staycation di Living Asia, berikut sedikit ceritanya.

Sedikit Tentang Living Asia


Mungkin ini yang dinamakan berkah berkeluarga, status sebagai pengantin baru membuat saya bersama seorang blogger pengantin baru namun agak lama mendapatkan hotel yang uapik pol, kece begete. Lalu, apa yang akan kami lakukan di sana? Plis ga usah kepo lah, yang jelas <^”*#*”*>  titik.

Terletak di Kabupaten Lombok Utara (satu jalur dengan kawasan wisata senggigi) tepatnya di Desa Lendang Luar, hotel yang belum 2 (dua) tahun  berdiri ini sangatlah nyaman, suasana damai asri sangat terasa sekali. Hotel ini memiliki 66 kamar dengan 6 type berbeda. Kami mendapatkan kamar dengan type Garden View, selain itu ada juga type ocean view dan lain-lain.

Hotel ini memiliki 1 (satu) buah kolam renang, restaurant dan beach bar dengan view laut. Selain itu hotel ini juga memiliki fasilitas spa yang memiliki display menarik.





Arah timur kau lihat hijaunya perbukitan, tengok barat kau lihat birunya lautan, suasana sepi nan asri membuat diri betah berlama-lama di sini, apalagi kunjungan ini bersama sang istri, hmmmmmmmm.
Ingin rasanya saya rangkai penuh, pengalaman ini menjadi satu tulisan utuh. “Gelora Senja di Living Asia” itulah kira-kira judulnya. Jangan piktor gara-gara baca judulnya ya, he.


Penutup
So, What are you waiting for? Ayo piknik, rasakan sensasi menginap di hotel yang sudah bekerja sama dengan Lombok Taksi/ Blue Bird Group dan dapatkan diskonnya.


Saturday, October 28, 2017

Dinner Menyenangkan di The Garden Restaurant


Mobil yang mengantarkan kami baru saja tiba, seorang wanita berambut pendek ala Demi Moore dalam film Ghost menghampiri. “Selamat datang di the garden restaurant!”  Itulah kata  yang terucap dari mulutnya.  Dina nama wanita tersebut, beliau adalah general  manager di restauran ini. Setelah berbasa-basi sejenak, kami pun diantarkannya menuju meja yang telah disediakan, tampak rombongan grup pimpinan Lombok Taksi, rekan blogger dan wartawan telah hadir dan asik mengobrol.
Untuk kesekian kalinya saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti kegiatan penandatanganan kerjasama (MoU) antara Lombok Taksi dengan sebuah restauran. Ketika ajakan itu datang tanpa tedeng aling-aling saya meng-iyakannya. Beruntungnya saya, karena dalam kesempatan ini diperkenankan mengajak istri  tercinta, dan  dalam kesempatan ini saya mendapatkan dua keuntungan sekaligus, selain bisa mengajak istri untuk melihat kehidupan malam di Kawasan Wisata Senggigi, saya juga dapat merasakan nikmatnya hidangan di salah satu restoran ternama secara gratis tis tis, he.

The Garden Restaurant, itulah nama restauran beken nan kece ini. Design bangunan utama berbentuk letter U yang terbuat  dari kayu, display foto repro ukuran besar tentang Lombok di masa lalu, dan bermacam jenis tanaman yang menghiasi, menghadirkan suasana nyaman siapapun yang mengunjungi tempat ini.

Udara  malam terasa hangat, alunan musik dari home band mengiringi obrolan seru kami. Tetiba musik berhenti,  kami pun memasuki acara inti, yaitu penandatanganan MoU antara The Garden dan Lombok Taksi. Sebuah kerja sama yang dimaksudkan untuk memberikan kepuasan bagi konsumen/pelanggan. Tidak tanggung-tanggung, Diskon 20% diberikan bagi tamu yang menikmati makanan dan minuman di tempat ini.

Acara inti selesai, sesi serangan malam pun dimulai, untuk hidangan pembuka pihak restaurant menghadirkan appetizer untuk kami berupa salad yang berisi sayuran segar dan udang dengan penyajian yang mempesona. Selain salad, dalam sesi appetizer juga dihadirkan makanan cantik dan unik berbentuk lumpia (saya lupa namanya) yang berasal dari Vietnam. Walaupun berbentuk seperti lumpia, namun hidangan ini tidak digoreng, kulitnya yang transparan dengan tampilan sayuran di dalamnya membuat kami penasaran untuk mencoba, dan Alhamdulillah ya, enak, he.

Lima menit berlalu, hidangan pembuka telah kami nikmati, di hadapan kami kini hadir main course atau hidangan utama. Seafood yang terdiri lobster, kepiting, kerang, udang, dan aneka ikan tersaji dalam satu wadah. Di meja kami sendiri telah tersedia dua macam sajian yang aromanya sangat menggugah selera, Chicken Steak di hadapan saya, dan Australian Beef Steak di hadapan istri tercinta.

Meja hampir penuh terisi, namun pramusaji kembali datang membawakan satu jenis lagi hidangan utama. Eksklusif Thali, itulah namanya, makanan khas India yang merupakan ciri khas dari restaurant ini. Untuk di Kawasan Wisata Senggigi, hanya restaurant inilah yang menyajikan menu ini.

Satu, dua, tiga. Acara makan memakan pun dimulai, dengan kalap namun khidmat kami mulai menikmati hidangan. Beruntungnya saya dan istri mendapatkan menu yang berbeda, jadi kami bisa saling bertukar makanan untuk sama-sama merasakan nikmatnya hidangan yang tersedia.
Chicken Steak dan Beef Steak tandas dengan sempurna, entah karena lapar atau memang maruk karena rasa enak yang merasuk,  kami beralih ke menu seafood di meja sebelah, lambaian capit kepiting seakan memanggil kami untuk segera menuntaskan apa yang tersedia. Hmmm, enak, enak, enak.
Perut sudah terasa penuh, makanan dan minuman segar sudah kami rasakan, tapi ternyata ini semua belum selesai, pramusaji kembali menghantarkan hidangan dessert (pencuci mulut). Pudding dengan fla eskrim berbagai bentuk tersedia di meja. Sungguh ini menjadi malam yang sempurna dalam hal makan memakan. Pelayanan prima, hidangan luar biasa, membuat kami terbuai dan merasa seperti raja.

Hal yang menarik dari The Garden, restauran ini tidak hanya berusaha memberikan kepuasan pengunjung yang datang, namun juga berusaha juga menjaga kesehatan pengunjung dengan cara tidak menggunakan MSG dalam semua masakannya.
Bagaimana, tertarik untuk merasakan nikmatnya makanan dan nyamannya sebuah restaurant, datang dan kunjungi saja The Garden Restaurant. Untuk mendapatkan diskon gunakanlah Applikasi My Blue Bird, pesan taksi melalui aplikasi ini, dan tunjukkan riwayat perjalananmu ke meja pembayaran, diskon 20% akan segera kamu dapatkan. Bagi yang belum memiliki applikasinya silahkan download di sini.
Oke Guys, jadi tunggu apa lagi, segera datang dan nikmati cita rasa tinggi di the garden restaurant.

Friday, October 27, 2017

RADIKALISME DAN TERORISME, SIAPA TAKUT!


Menjelang senja di Kota Mataram bagian utara, dua  wanita muda tampak  tergesa, langkah  mereka terlihat bergegas, memasuki sebuah hotel ternama. Semangat  terpancar dari raut wajah mereka.
Ika Rosiana (Ika) dan Baiq Nila Ayu Purnama Sari (Nila), itulah nama keduanya, mahasiswi dari dua perguruan tinggi, dengan keahlian  dan daerah asal berbeda. Mereka sebelumnya belum pernah berjumpa, namun kesamaan pandangan dan tujuan membuat takdir mempertemukan mereka dalam sebuah rangkaian acara, dan kemudian menyatukan mereka layaknya saudara.
Duta Damai Dunia Maya, ya, itulah kegiatan yang mereka ikuti. Sebuah kegiatan yang dilaksanakan oleh Pusat Media Damai, lembaga bentukan Deputi Pencegahan Perlindungan dan Deradikalisasi Terorisme yang bernaung di bawah Badan Nasional Penanggulangan Terorisme . Kegiatan ini diikuti 60 peserta yang dibagi dalam 5 (lima) kelompok terdiri dari blogger, tenaga IT dan DKV, dimana tujuan  pembentukannya sendiri adalah menyiapkan  tenaga sukarela, guna membantu pemerintah melakukan upaya mengkonter propaganda radikalisme dan terorisme yang berupaya merasuki dan meracuni pikiran anak bangsa dengan cara membuat dan menyebarkan konten-konten positif di dunia maya melalui situs yang mereka buat.

Kembali ke kedua wanita muda. Selama kegiatan itu berlangsung, sama sekali tidak tampak rasa takut ataupun khawatir di wajah mereka, uraian – uraian yang disampaikan pembicara malah membuat mata mereka menyala, raut wajah menahan amarah, ketika melihat segala macam tayangan yang bersifat propaganda.
Lalu dari mana keberanian mereka timbul?
Ini semua berawal dari keprihatinan mereka melihat maraknya berita di dunia maya tentang propaganda penyebaran faham radikal yang  berupaya mengganggu stabilitas negara. Maka berlandaskan rasa cinta kepada bangsa, patriotisme yang tinggi, dengan kesadaran yang penuh mereka merelakan dirinya membantu tercapainya damai di Indonesia. Sungguh suatu upaya yang patut diapresiasi, di tengah fenomena sikap pemuda yang cenderung apatis, mereka berfikir berbeda, berusaha ikut menjaga kedaulatan negara, membantu membangun negara dengan cara yang mereka bisa.
Radikalisme dan Terorisme sendiri sejatinya memanglah sesuatu yang harus diperangi, karena dua faham ini bukan hanya dapat merusak tatanan bangsa, tapi juga bisa menghancurkan sebuah negara.
Lantas bagaimana cara kita untuk mengatasinya?
Rasa takut yang coba dimunculkan oleh para penganut faham radikalisme dan terorisme melalui propaganda, ancaman dan tindakan anarki sejatinya harus ditangkal sedini mungkin. Dan dalam hal ini para pemuda haruslah menjadi ujung tombak, mereka harus cerdas dalam menyikapi dan menelaah apa yang mereka baca, menyaring setiap informasi yang masuk dan tidak mudah terprovokasi.
Tidak kalah pentingnya, pemuda harus bekerja sama, minimal dengan cara saling mengingatkan untuk tetap membentengi diri agar tidak mudah teracuni. Satu hal yang harus mereka tanamkan dalam diri, bahwa NKRI Harga Mati, tidak ada tawar menawar lagi.
Tentu saja banyak cara untuk berkonstribusi bagi keutuhan dan kemajuan bangsa. Dua wanita muda cerdas di atas telah  mencoba dengan caranya, yaitu menjadi Duta Damai Dunia Maya.
Lalu, bagaimana dengan anda?
Apakah anda akan berdiam diri saja?
Pernahkah terfikir di benak anda bahwa siapa tahu, mungkin saja mereka yang teracuni otaknya adalah, saudara kita. Oleh karenanya, Ayo bantu jaga negara kita, laporkan segala bentuk faham yang menyimpang. 
Jangan hanya diam, karena diam hanya akan membuat mereka semakin digdaya. Karena diam tanpa bertindak sama halnya dengan membiarkan Negara Kesatuan Republik Indonesia menuju jurang kehancurannya.
Jika anda masih berdiam diri, apalagi anda seorang pria, maka wajib malulah anda dikalahkan oleh dua sosok wanita muda. Ayo, jangan takut! Bersama kita perangi radikalisme dan terorisme, demi keutuhan negara tercinta.



Saturday, October 21, 2017

Bernyanyi Bersama Lombok Taksi, Bergembira di Inul Vista

Waktu menunjukkan pukul tujuh malam, semesta mulai menampakkan wujud aslinya, malam hadir sebarkan pesona gelap. Hal ini semakin terlihat bila kita susuri jalan menuju pinggiran kota. Namun, di salah satu komplek pertokoan di kecamatan Cakranegara, malam seperti tak berdaya, cahaya lampu mampu mengalahkan gelapnya malam yang jumawa.

Kendaraan roda dua saya berhenti di lokasi ini. Setelah memarkir kendaraan, saya kemudian berjalan memasuki loby. Ruangan itu terlihat sesak, sofa cantik  yang tersedia tampak terisi penuh oleh manusia dari berbagai type,  orang tua, anak muda, pria dan wanita. Entah ada apa di malam itu, mungkin ada seseorang yang sedang berulang tahun? Sayangnya rasa penasaran yang berkelindan dan mulai merasuki fikiran harus saya kesampingkan, langkah kaki saya arahkan ke meja front office yang berisi dua wanita dengan senyum ramah menghiasi wajah.
“Lantai 3 (tiga) ruang 29 pak” , ucap salah satu front office ketika saya bertanya perihal dimana tepatnya rombongan  petinggi Blue Bird Lombok (Lombok Taksi) berada. Setelah mengucapkan terima kasih, kaki ini kembali melangkah, menaiki tangga. Kesan mewah dan berkelas hadir dari tampilan berbagai ornamen yang terlihat. Alunan suara musik dan orang yang bernyanyi terdengar dari beberapa ruangan yang tersedia.

Saya pun tiba di ruangan tujuan, seorang rekan tampak sedang asik bernyanyi, sementara di sofa yang lain 3 (tiga) orang pejabat Lombok Taksi pun telah tampak hadir. Setelah beramah tamah sebentar, saya pun duduk di salah satu sofa yang telah disediakan. Sembari menunggu kelengkapan orang-orang yang datang, saya kembali mengamati detail yang ada . Cozy n Homy, ini yang saya rasakan saat mulai mengamati satu persatu detail yang ada. Dalam ruangan berukuran lebih dari 3x8 tersebut, terdapat lebih dari 5 (lima) sofa berukuran panjang berbentuk letter U, 2 (dua) Layar LED, sound system yang cetar membahana, dan pencahayaan yang tidak membuat sakit mata. Sungguh, ruangan ini akan membuat kita betah berlama-lama menghabiskan waktu di sana. Selain ruangan yang membuat nyaman, tempat ini juga memiliki ragam menu makanan dan minuman, dengan cita rasa yang sungguh menggugah selera. Ah, semakin betah saya rasanya.

Inul Vista Lombok, itulah nama tempat yang saya kunjungi bersama beberapa rekan blogger n wartawan ekonomi, sebuah tempat karaoke keluarga yang dimiliki oleh salah satu pedangdut wanita terkemuka di Indonesia. kami berkesempatan menjadi saksi penandatanganan kerjasama antara pihak inul vista Lombok dan Lombok Taksi /  Blue Bird Lombok.
Waktu terus berjalan, pihak yang berkepentingan satu persatu kembali berdatangan memasuki ruangan, mulai  dari rekan wartawan ekonomi hingga pejabat Lombok Taksi. Selang beberapa menit kemudian salah satu tokoh utama yang ditunggupun akhirnya hadir, Lalu Muhammad Syafi’i namanya, beliau adalah manajer dari Inul Vista Lombok. Dalam sambutannya beliau menyatakan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada pihak Blue Bird Lombok terkait dengan kesepakatan ini, dan ybs juga merasa terkesan karena dari beberapa MoU yang sudah dijalani, MoU dengan Lombok Taksi inilah yang paling meriah pelaksanaannya. Kesepakatan yang berkesinambungan, tidak berhenti di tengah jalan. Itulah kata kunci dari apa yang disampaikan oleh Manager Inul vista ini.

Senada dengan hal tersebut, Bapak Amir Muslim selaku pimpinan Blue Bird cabang Lombok juga menyampaikan bahwa kerja sama tidak akan berhenti sampai sini, baik itu kerja sama dengan Inul Vista maupun pihak lain, inovasi akan terus dilakukan demi kepuasan masyarakat/pelanggan.

Lalu, apa sebenarnya yang di dapatkan oleh masyarakat dan pelanggan dari MoU ini, dan bagaimana caranya?
Melalui kerja sama ini apabila masyarakat/konsumen ingin mengunjungi Inul Vista Lombok bisa mendapatkan diskon sebesar 15 % dengan cara:
  1. Unduh aplikasi My Blue Bird 
  2. Gunakan aplikasi tersebut untuk menuju lokasi inul vista
  3. Tunjukkan riwayat perjalananmu (dalam aplikasi tersebut) ke resepsionis atau tempat pembayaran.
Bagaimana, cukup mudah bukan?
So, apa lagi yang ditunggu? Segera download applikasinya, gunakan and met have fun !!!