Tuesday, June 20, 2017

Ramadhan Mulia Bersama Republika


Mataram, di kota inilah saya berdomisili semenjak tahun 1998. Pada awalnya saya tidak merencanakan menetap, hanya untuk melanjutkan pendidikan di salah satu perguruan tinggi yang ada, namun ternyata nasib berkata lain, hati saya terpaut dengan pulau di mana  kota ini berada.
Ya, Pulau Lombok, pulau dengan bentangan pantai berpasir putih di setiap sisi,  puluhan gili (pulau kecil), ratusan  air terjun bersumber dari Danau Segara Anak yang terletak di Gunung Rinjani, telah membuat diri ini jatuh hati, terpikat, melekat, dan enggan untuk berpindah tempat. 
Lombok sendiri merupakan 1 (satu) di antara dua pulau besar yang ada di Provinsi Nusantara Tenggara Barat, tentu saja di sebelah timur ada Pulau Sumbawa yang tidak kalah cantiknya, namun untuk saat ini saya hanya akan membahas mengenai Pulau Lombok. Bukan tentang pesona pantai, air terjun maupun Gunung Rinjani, tetapi tentang apa yang terjadi pada bulan Ramadhan di Lombok 2017
Selain dikenal dengan pesona keindahan alamnya, Pulau Lombok juga dikenal dengan julukan Pulau Seribu Masjid, bukan berarti masjid yang ada hanya 1000 (seribu), tapi ini merupakan perumpamaan bahwa betapa banyaknya masjid di pulau ini, di setiap lingkungan (RW) pastilah memiliki masjid. Malah terkadang dalam 1 (satu) lingkungan terdapat lebih dari satu masjid, sehingga untuk pelaksanaaan Sholat Jum'at dipergilirkan setiap masjid. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kereligiusan masyarakat di pulau ini tergolong tinggi.
Seperti tahun-tahun sebelumnya yang saya alami, Bulan Ramadhan di Lombok terasa sangat syahdu dan semarak, ini dibuktikan dengan tetap terdengarnya lantunan ayat suci Al-Qur'an, serta antusiasme masyarakat untuk mendatangi masjid.
Predikat sebagai destinasi wisata halal dunia membuat Pemerintah Provinsi NTB  semakin bersemangat untuk menyelenggarakan kegiatan wisata yang bersifat religi. Hal itulah yang membuat terjalinnya kerjasama antara Pemerintah Provinsi NTB dengan Media Republika, dan akhirnya  membuat rangkaian kegiatan bertajuk Pesona Khazanah Ramadhan, yang berlangsung selama Bulan Ramadhan. Kegiatan tersebut bertempat di Islamic Center NTB, dengan Masjid Hubbul Wathan sebagai pusat kegiatannya.  Alhamdulillah wa Syukurillah, walaupun tidak dapat mengikuti semua rangkaian kegiatan, saya beruntung dapat mengikuti beberapa di antaranya. Apa saja kegiatan tersebut? Berikut uraiannya :

Kegiatan Ibadah

Sebagai rangkaian pembuka kegiatan adalah Tabligh Akbar tepat sehari sebelum puasa yang menghadirkan Ust. Yusuf Mansyur. Selain kegiatan ini, aktivitas yang sering saya ikuti adalah Sholat Tarawih berjama’ah , yang di Imami oleh 4 (empat)  Imam besar  dari negara  timur tengah secara bergiliran tiap pekannya. Seperti saya sebutkan di atas, antusiasme masyarakat dalam pelaksanaan sholat tarawih ini sangatlah besar, hal ini dibuktikan dengan membludaknya jamaah shalat tarawih setiap harinya, ayat –ayat panjang dan suara merdu para Imam menambah syahdu pelaksanaan sholat. Selain itu kegiatan ibadah ini juga terdiri dari Tahajud, Qiyamul Lail Akbar, Temu Imam Besar, Tadarus bersama Gubernur, dan I’tikaf.

Pameran dan Bazar

Untuk kegiatan satu ini, terutama bazar buku, saya tak mau kehilangan kesempatan karena banyak buku yang ditawarkan dengan harga miring, beberapa buku saya bawa pulang dengan hati riang. 
Pameran seni budaya islam membuat saya terkagum-kagum.  Selain menampilkan tayangan film mengenai Rasulullah SAW dan para sahabat, pameran ini juga menampilkan replika barang peninggalan Rasulullah SAW dan para sahabat seperti, Pedang, Tongkat, Busur Panah dan Sandal milik Rasulullah SAW, juga terdapat pedang dari para sahabat. Dengan membayar infak sebesar Rp.5000,- pengunjung juga dapat berfoto dengan replika pedang milik sahabat yang telah disediakan.

Pameran Foto NTB yang ditempel di sepanjang lorong Masjid Hubbul Wathan pun semakin menambah semarak suasana yang ada, di sini kita dapat melihat objek-objek wisata yang ada di NTB melalui foto-foto yang terpajang tersebut. Bila anda berkunjung malam hari dan masih merasa lapar, tepat di sebelah barat area Masjid terdapat stand makanan halal.


Talkshow

Kegiatan ini termasuk yang saya tunggu-tunggu, terutama kegiatan bedah buku yang menampilkan penulis best seller Habiburrahman El Shirazy (Kang Abik) yang terkenal berkat booming novel Ayat-ayat Cintanya, sungguh beliau ini termasuk salah satu penulis idola saya, oleh karenanya dalam kesempatan ini saya menyempatkan diri untuk berfoto dengannya dan tak lupa juga meminta tanda tangannya di setiap buku yang saya punya.

Kegiatan kedua yang saya ikuti tepat seminggu setelahnya adalah Meet and Greet bersama Tere Liye. Pada dasarnya saya tidak begitu mengagumi tokoh ini, karena menurut saya pribadi segmen  pembaca dari  novel yang beliau buat adalah makhluk ciptaan Allah SWT yang bernama wanita. Benar saja, ketika saya datang, isi ruangan penuh dengan para wanita (sekitar 85% dari isi ruangan). Acara Meet n Greet bersama  Tere Liye sangatlah heboh, itu terlihat dari antrian mereka yang ingin berfoto dan meminta tanda tangannya.

Hiburan Islami

Ada hal menarik terkait dengan hiburan islami ini, yaitu tersedianya salah satu hiburan olahraga islami yang termasuk dalam Sunnah Rasul, yaitu memanah. Ya, di sisi sebelah selatan pekarangan Masjid Hubbul Wathan, disediakan arena memanah. Hanya dengan Rp.10.000,- (sepuluh ribu rupiah) untuk 12 (duabelas) anak panah, kita dapat mencoba olahraga ini dengan dibimbing oleh instruktur berpengalaman. Melihat antusiasme masyarakat, saya pun penasaran ingin mencobanya, tapi sayang beribu sayang, dari 1 (satu) lusin anak panah yang disediakan, saya hanya mampu mengenai target tidak sampai setengahnya, he.
Peringatan Nuzulun Qur’an pun dikemas secara menarik, selain menghadirkan hiburan kesenian tradisional musik khas Negeri Arab, acara yang sedianya menghadirkan KH. Abdullah Gymnastiar (A’a Gym) ini juga menghadirkan Guru Besar Universitas AL-Azhar (Mesir). Acara ini ditutup dengan hiburan dari grup musik religi lawas yaitu Bimbo.

Ada satu kegiatan lagi yang akan hadir, yaitu Malam  1000 Cahaya pada hari Sabtu, 24 Juni 2017. Menarikkah acara ini nantinya? Tentu saja menarik, karena acara ini Insyaa Allah akan dihadiri oleh Pendiri Majelis Dzikir yaitu KH. Ust. Arifin Ilham.  

Kegiatan Sosial

Ketika pelaksanaan acara Meet and Greet bersama Tere Liye, saya sempat berhenti sejenak untuk melihat dari luar acara kegiatan sosial yang dilakukan, yaitu kegiatan berbagi bersama anak yatim, terenyuhkah saya? Jelas sudah pasti, dalam hati semakin terpatri, bahwa hidup ini sejatinya haruslah berbagi.

Aneka Lomba

Seperti layaknya setiap kegiatan, untuk menambah meriahnya acara, maka idealnya ada aneka lomba yang mengiringi. Hal ini pun tidak luput dari perhatian penyelenggara, mereka melaksanakan beberapa jenis lomba,  beberapa di antaranya telah selesai yaitu mewarnai kaligrafi,  pantun islami, dan pemilihan da’i remaja NTB.

Sungguh mengesankan bukan, saya hanya berharap semoga kesyahduan yang mempesona dari khazanah Ramadhan di Lombok 2017 ini membekas di hati kita dan mampu membawa kita ke arah yang lebih baik, dan tentu saja juga harapan bahwa acara ini akan terselenggara di  Ramadhan-Ramadhan selanjutnya, dan semoga kita dapat berjumpa kembali dengan Bulan yang mulia ini. Aamiin Yaa Rabb.

 “Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta (tetap) melaksanakan sholat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada apapun) kecuali kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang yang mendapat petunjuk”. QS: 09  (18)

#PesonaKhazanahRamadhan
#PesonaRamadhan
#PesonaIndonesia
#KhazanahRamadhanLombok


“Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog #RamadhanDiLombok2017 yang diselenggarakan Republika dan Pemerintah Daerah Nusa Tenggara Barat”.

Thursday, June 15, 2017

IKON KEBANGGAAN ITU BERNAMA HUBBUL WATHAN

   


     
Pulau Lombok, siapa yang tidak mengenal destinasi wisata satu ini. Pantai dengan pasir putih dan laut biru yang siap memanjakan pandangan, pulau-pulau kecil perawan, air terjun menawan, hingga gunung Rinjani dengan danau vulkaniknya yang mempesonakan. Siapapun yang pernah berkunjung ke Lombok, pastilah mengakui bahwa pulau ini gak ada matinya (meminjam istilah kekinian), hingga sampai ada ujar-ujar yang berkembang "jangan ke Lombok nanti gak mau pulang".
Selain terkenal karena keindahannya, pulau Lombok juga dikenal dengan julukan Pulau Seribu Masjid, mengapa demikian? Tentu saja karena saking banyaknya masjid yang ada di pulau ini. Bayangkan saja, setiap lingkungan (RW) minimal terdapat satu masjid, belum terhitung musholla. Malah di beberapa tempat terdapat masjid yang lokasinya berseberangan, hanya dipisahkan  oleh jalan. Mungkin atas dasar julukan inilah, Dr. Zainul Majdi, MA selaku Gubernur Provinsi NTB saat itu mencoba merealisasikan dibangunnya Islamic Center yang berlokasi di Kota Mataram sebagai ikon dari julukan tersebut.
Hubbul Wathan tampak dari sebelah utara
Tahun 2009 wacana pembangunan Islamic Center mulai terdengar, seperti biasa, sesuatu hal yang baru pastilah menimbulkan pro dan kontra di masyarakat, nada sumbang banyak terdengar terkait dengan wacana ini, seperti: pembangunan ini hanya menghabiskan anggaran, untuk apa membangun yang baru sedangkan di lokasi yang berdekatan sudah ada masjid raya At-Takwa, mengapa membangun tapi dengan cara merubuhkan bangunan-bangunan yang ada, dan berbagai nada miring lainnya. Namun hal tersebut tidak menyurutkan niat Pemerintah Provinsi NTB untuk tetap melanjutkan pembangunan ini, dengan alasan bahwa daerah lain yang tidak memiliki jumlah masjid seperti di Lombok sudah punya Islamic Center. Jadi menurut Dr. H. M. Zainul Majdi, MA selaku Gubernur, provinsi NTB yang mayoritas muslim dan terutama pulau Lombok dengan julukan Pulau Seribu Masjid  haruslah memiliki Islamic Center sehingga tidak kalah dengan daerah lain. Selain itu masih menurut yang bersangkutan, tujuan lain dari pembangunan ini adalah meningkatkan dakwah dan syiar islam dan juga menjadi tujuan destinasi wisata religi yang mendunia (sumber : vivanews.co.id).
Pada tahun yang sama pemenang Grand Design Islamic Center pun diumumkan, dengan Ir. Zulkifli Yusuf sebagai pemenang. Bangunan yang akan berdiri di lahan seluas 7,6 hektar ini diperkirakan akan memakan biaya sebesar Rp.356 miliar dan akan dengan 5 (lima) tahapan pembangunan. Menurut wawancara penulis dengan pemenang design via daring, karakteristik NTB dimunculkan melalui pintu masuk utama masjid berupa atap berugak dan kubah menara yang berbentuk atap berugak mengarah ke empat penjuru mata angin. Ornamen yang ada pun sangatlah memikat hati, bila kita masuk lewat gerbang utama (pintu sebelah timur),kemegahan langsung terasa dengan bentuk gerbang yang besar dan kokoh.
Hubbul Wathan tampak dari sebelah selatan
Tahun 2014, tepatnya hari Jum'at tanggal 19-03-2010, peletakan batu pertama dilaksanakan bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Acara ini dihadiri oleh ribuan umat islam yang terdiri dari para pejabat, tuan guru, dan lain-lain. Selain peletakan batu pertama, acara ini juga dilanjutkan dzikir yang dipimpin Ustadz KH. Arifin Ilham. Harapan mulai tumbuh di hati masyarakat bahwa mereka akan segera memiliki bangunan yang sebelumnya sempat menuai kontroversi tersebut. 
Tahun 2015, Lombok (NTB) ditetapkan sebagai pemenang destinasi wisata halal dunia dari 3 (tiga) kategori yang dimenangkan oleh Indonesia. Hal ini tentu saja  membuat masyarakat NTB bangga, dan semakin yakin bahwa harapan untuk menciptakan NTB sebagai daerah wisata religi akan semakin mendekati tujuan. 
Hubbul Wathan tampak dari sebelah timur
Seiring dengan berjalannya waktu, pada awal tahun 2016, bangunan utama Islamic Center berupa masjid akhirnya  rampung sudah. Pada tahun yang sama pula NTB menjadi pihak penyelenggara pelaksanaan MTQ  Nasional ke-26  dimana kegiatan tersebut berpusat di sini. Acara yang dibuka langsung Presiden RI Ir. Joko Widodo ini  membuat rasa bangga semakin terpatri di dada masyarakat NTB. Rasa bangga pun semakin menjadi ketika pada tanggal 07 Desember 2016 waktu Abu Dhabi, Lombok kembali menyabet predikat destinasi halal, tidak tanggung-tanggung 3 (tiga) kategori diperoleh oleh Lombok (NTB). Ini jelas semakin mengukuhkan Lombok (NTB) sebagai destinasi wisata halal (religi) dunia. Tanggal 17 Desember 2016, bertepatan dengan hari lahir Provinsi NTB dilakukan serah terima bangunan masjid Islamic Center dari pihak pengembang ke pemerintah, dan pada tanggal yang sama pula dideklarasikan pemberian nama untuk masjide ini, yaitu masjid Hubbul Wathan yang berarti cinta negara. Banggakah masyarakat? Tentu saja, apalagi dengan berbagai penghargaan yang tersebut di atas, semakin jelaslah posisi Islamic Center (Masjid Hubbul Wathan) sebagai Ikon Kebanggaan Wisata Halal NTB.
Hari ini ketika tulisan ini tayang, tepatnya 14 Juni 2017 atau 19 Ramadhan 1438H, Dinas Pariwisata Provinsi NTB bekerjasama dengan media nasional Republika, menyelenggarakan ragam kegiatan di masjid Hubbul Wathan Islamic Center. Tidak tanggung-tanggung, acara yang bertajuk Pesona Khasanah Ramadhan menghadirkan 4 (empat) orang hafidz Al-Qur'an (Qori' internasional) sebagai imam sholat tarawih. Selain itu di tempat yang sama juga berlangsung berbagai macam kegiatan seperti talkshow, ragam lomba, bazar buku dan pasar rakyat, fashion show dan juga kegiatan lainnya yang tentu saja membuat masyarakat semakin bangga dengan kehadiran dari masjid Hubbul Wathan ini. Besar harapan semoga ke depannya semua ini akan memberikan manfaat positif bagi masyarakat NTB pada umumnya dan menambah khazanah Pesona Seribu Masjid di pulau ini. SEMOGA.

Bazar buku dan acara meet and greet bersama kang Abik di masjid Hubbul Wathan
MTQ di Hubbul Wathan (Islamic Center)
stand memanah dalam pesona khazanah ramadhan di Hubbul Wathan
Peringatan Nuzulul Qur'an di masjid Hubbul Wathan

Suasana sholat Jum'at di Hubbul Wathan



"Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta (tetap) melaksanakan sholat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada apa pun) kecuali kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapatkan petunjuk". QS: 09  (18).


Friday, May 19, 2017

Bank Syariah dan Upaya Menuju Berkah Bersama OJK


OJK namanya, pertama saya mendengar kata ini sekitar tahun 2012. Awalnya saya mengira ini adalah sebuah aplikasi sejenis Gojek, bodoh sekali kan saya, he. Seiring berjalannya waktu kata ini semakin sering terdengar, akibat penasaran saya pun mencoba mencari tahu, apakah OJK?
OJK adalah singkatan dari Otoritas Jasa Keuangan yang merupakan sebuah lembaga independen dan bebas dari campur tangan pihak lain, dan mempunyai fungsi, tugas serta wewenang pengaturan, pengawasan, pemeriksaan dan penyidikan dalam sektor jasa keuangan baik itu perbankan, pasar modal maupun sektor jasa non-bank seperti asuransi, dana pensiun, lembaga pembiayaan dan lembaga jasa keuangan.
Semua itu bertujuan agar keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan terselenggara secara teratur, adil, transparan, akuntabel dan mampu mewujudkan sistem keuangan yang tumbuh secara berkelanjutan dan stabil, serta mampu melindungi kepentingan konsumen dan masyarakat (UU No.21 Tahun 2011).
Hari ini, Jum'at 19 Mei s/d Minggu 21 Mei 2017, bertempat di salah satu pusat perbelanjaan di Mataram, OJK menggandeng seluruh unsur Bank Syari'ah yang ada di NTB untuk lebih memperkenalkan produk mereka d masyarakat.
Acara dimulai dengan sambutan dari Sekda Provinsi NTB sekaligus membuka acara dengan pemukulan Gendang Beleq (salah satu kesenian khas Lombok). Kemudian acara selanjutnya adalah talkshow mengenai perbankan syari'ah.
Ada satu hal yang saya garis bawahi dalam talkshow ini, yaitu mencoba menyamankan diri dengan menggunakan produk-produk Syari'ah, menurut saya pribadi ini akan sungguh ini akan menjadi suatu langkah untuk menggapai hidayah dengan menggunakan produk-produk yang insyaa Allah berkah.
Selain talkshow, acara yang bertajuk iB Vaganza ini juga di isi perlombaan marawis yang diikuti oleh beberapa lembaga  baik itu dari kota Mataram maupun dari kabupaten lain di pulau Lombok.

Stand yang hadir meramaikan membuat suasana semakin meriah, beragam produk dari seluruh Bank Syari'ah yang berpatisipasi mulai dari tabungan hingga kredit perumahan ditawarkan oleh mereka, tentu saja dengan doorprize dan hadiah-hadiah keren. Game-game seru pun ikut meramaikan stand-stand ini guna menarik  minat para pengunjung pusat perbelanjaan tersebut.

Harapan ke depan dari penyelenggaraan kegiatan ini adalah semakin dikenal dan masyarakat yang menabung dan mempercayakan transaksi keuangannya di Bank Syari'ah.
Semoga!




Saturday, April 22, 2017

Jaga Mata Air Untuk Hindari Air Mata

"Jagaq Enggeran Aiq Umaq Bai Baloq Te Lemak Mudi" itulah tema kegiatan yang saya ikuti kali ini, tema dalam bahasa Sasak yang terjemahan bebasnya berarti jagalah keberlangsungan mata air demi masa depan anak cucu. Kegiatan yang berlangsung pada tanggal 25-26 Maret 2017 dan berlokasi di desa Aiq Beriq Kab. Lombok Tengah ini dilakukan dalam rangka memperingati hari air sedunia yang jatuh pada tanggal 22 Maret, dengan rangkaian kegiatan berupa : Aksi Seni dan Budaya, Wisata Air Terjun, Penanaman Pohon dan Bersih Lingkungan. Dimana pelaksana kegiatan ini adalah paguyuban pemuda setempat (Tastura Guide) bersama dengan komunitas Waterfalls Lombok Lovers.
Selain untuk memperingati hari air, kegiatan ini juga dimaksudkan untuk lebih memperkenalkan destinasi wisata desa Aiq Beriq. Seperti yang kita tahu (terutama untuk mereka yang berdomisili di Lombok), desa ini sudah lumayan terkenal dengan potensi wisata yang ada, yaitu air terjun  Benang Stokel dan air terjun Benang Kelambu. Ternyata oh ternyata, di desa ini masih terdapat beberapa air terjun lainnya. Bila ditotal berarti ada 3 (tiga) air terjun lain yang walaupun tidak setinggi dua air terjun di atas, namun memiliki keunikan tersendiri.

Persiapan Acara
Untuk memastikan rangkaian kegiatan dapat berjalan dengan baik, maka pada hari Minggu 13 Maret 2017, kami mensurvey lokasi kegiatan terutama 3 (tiga) air terjun yang belum famous ini. Judulnya sih memang mensurvey, tapi tetep intinya ya jalan-jalan, he.
Baiklah kita lanjut, akses menuju lokasi (gerbang destinasi wisata) air terjun tidaklah sulit, dari arah kota Mataram terdapat banyak papan penunjuk jalan menuju desa Aiq Beriq. Dengan menempuh perjalanan kurang dari 1 (satu) jam, maka tibalah kita di lokasi. Setelah beramah-tamah sebentar perjalanan kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki, hanya dalam waktu 10 menit menyusuri jalan yang telah tertata dengan baik, maka tibalah kita di lokasi pertama yaitu air terjun Benang Stokel.
Benang Stokel Waterfall

Pengkelep Udang
Setelah puas berfoto dan melakukan pemetaan kemudian perjalanan kami lanjutkan ke air terjun kedua yaitu air terjun pengkelep udang. Lokasi air terjun ini tidak jauh dari air terjun benang stokel, malah sebenarnya lokasi air terjun ini berada sebelum lokasi benang stokel. Hal yang menarik dari lokasi ini adalah air terjun biasa dipakai untuk kegiatan jumping, menguji nyali wisatawan yang berkunjung dengan melakukan lompatan dari atas air terjun dengan ketinggian lebih dari 5 meter. Penasaran ingin mencoba, silahkan datang, dengan biaya tertentu anda dapat menikmati wahana ini. Setelah melakukan assesment kebutuhan, disepakati bahwa untuk menjaga keamanan pengelola akan  menyiapkan SOP dan perlengkapan pengaman.

Perjalanan kami lanjutkan kembali menuju air terjun selanjutnya, Kliwun namanya. Karena lokasi ini memang khusus diperuntukkan bagi wisatawan yang membayar jasa guide, maka lokasi dibuat se-natural mungkin. Kami memasuki hutan wisata, melakukan soft tracking dengan vegetasi yang masih rapat. Perjalanan memakan waktu kurang dari 20 menit, kami pun di suguhi pemandangan yang warbiasahhh,
bertemu air terjun dengan ketinggian 5 meter dan kami  berada di bagian atasnya, melihat ke arah bawah, dan menyaksikan salah satu keagungan Allah SWT dalam bentuk ciptaannya yaitu Pelangi, ya ada pelangi di sana, iya di sana, bukan di bola matamu, wkwk.

Untuk mencapai dasar air terjun, kami harus menuruni bebatuan yang lumayan licin, namun hal itu tidak menurunkan semangat kami. Vegetasi yang rapat, jernihnya air dan suasana yang tenang membuat kami betah berlama-lama di lokasi ini.
kliwun waterfall

Setelah puas melakukan sesi pemotretan dengan model dadakan dan candid-candidan. kami kembali melanjutkan perjalanan menuju air terjun ke-4, air terjun, perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri aliran dari air terjun Kliwun, tidak sampai 10 menit, kamipun tiba di air terjun selanjutnya, dengan ketinggian sekitar 8 (delapan) meter, air terjun Sesera namanya. tempat yang lapang di sekitar air terjun membuat kami memutuskan untuk beristirahat sejenak, tentu saja tidak lupa sesi poto-potoan seperti biasa, namanya juga kekinian :p . Matapun dimanjakan dengan banyaknya capung beraneka warna dan bentuk yang berkelindan di hadapan kami.

sesere waterfall
Puas berbincang dan mengabadikan keindahan keindahan dari berbagai sudut, kami kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini kami menuju air terjun yang sudah banyak dikenal (mainstream). Air terjun Benang Kelambu, itulah nama air terjun ini. Sepertinya tidak perlu dijelaskan mengenai betapa air terjun ini memiliki karakter yang khas dikarenakan bentuknya  menyerupai kelambu. Hal yang menarik adalah, tidak seperti pengunjung biasa yang mencapai tempat ini melalui jalur umum, kami berjumpa dengan air terjun ini melalui jalur susur sungai.

Benang Kelambu waterfall

Apakah perjalanan survey ini selesai? Ternyata belum, kami masih diberikan bonus 1 (satu) air terjun lagi, kali ini dengan waktu setengah jam menyusuri aliran air tanpa henti dan terkadang melewati bebatuan besar dengan diameter sekitar 3-4 meter, kami menuju satu air terjun tersembunyi dengan lokasi yang sangat asri, steril dari polusi, hijau di kanan kiri dan gemericik air yan tenangkan hati. Air terjun Batu Mas itulah namanya. Untuk lokasi ini hanya orang-orang tertentu yg diizinkan untuk mendatanginya, how lucky we are.!
Batu Mas memiliki ketinggian sekitar 6 (enam) meter, dengan tebing batu berwarna keemasan, mungkin itulah kenapa disebut Batu Mas, andaikan warnanya keperakan tentu saja akan disebut batu perak, he.

Batu Mas Waterfall

Cuaca mendung datang, kami pun bergegas pulang, kembali ke titik awal yaitu pintu gerbang (ticketing). Namun diperjalanan, tetiba pasukan hujan datang menyerang disertai petir yang menggelegar dan membuat langit terkadang benderang. Untung saja itu kami sudah berada di lokasi warung-warung sekitar air terjun Benang Kelambu, kami memutuskan berteduh menunggu hujan reda. Selepas hujan berhenti membasahi bumi, kami berjalan kembali menyusuri hutan desa, selang 15 menit kami tiba di persimpangan air terjun Benang Stokel, menengok kiri ke arah air terjun tuk sekedar menyapa, Masya Allah, ada sesuatu yang berbeda, Benang Stokel yang ketika perjalanan awal hanya berupa 2 (dua) curahan air, kini menjadi 3 (tiga) akibat hujan yang baru reda. Kami pun memutuskan untuk mengabadikan momen langka ini tanpa mengindahkan rintik yang datang kembali. Beruntungnya kami!
Benang Stokel setelah hujan

Pelaksanaan 
Rapat demi rapat kami jalani untuk memastikan acara ini dapat berjalan dengan baik. Persiapan mengenai perlengkapan, perizinan, pendanaan hingga hal-hal tekhnis semua dibahas secara maksimal bin detail. Run down acara pun akhirnya berhasil diputuskan dengan beberapa agenda kegiatan dalam waktu 2 (dua) hari pelaksanaan. Bermodal nekad kamipun memutuskan untuk sounding acara ini tepat di Hari Bumi, hanya berjarak 3 (tiga) hari dari pelaksanaan, sungguh nekad apa yang kami lakukan, tapi dengan mengucap Bismillah, kami yakin niat yang baik, tekad, semangat dan harapan yang kuat ikhtiar ini akan mencapai tujuan yang diharapkan.
Sabtu, 25 Maret 2016. Hari H pun tiba, awalnya pribadi agak kecewa karena minimnya peserta. tapi hal itu terobati ketika malam mulai menutupi. Rangkaian kegiatan yang ada  mulai dari pentas musik akustik, pertunjukan musik tradisional klentang, tari kontemporer dan musikalisasi puisi mampu menghibur hati ini.
musik akustik oleh om Wing Sentot dkk (credit by: Nyimas Anita)


Musik tradisional Klentang desa Aik Berik (credit by: Ari Garmono)

Tari kontemporer oleh mbak Indah dan mbak Vika 

Musikalisasi puisi oleh om Winsa (credit by: Ari Garmono)
Minggu 26 Maret 2017, hari masih pagi, namun kami sudah bersiap mengantisipasi peserta yang datang hari ini, akhirnya yang dinanti tiba, rombongan krucil dari pesantren Sirojul Huda Lombok Tengah datang dipandu oleh ustadz Jhellie. Walaupun target peserta tidak terpenuhi, kami bersyukur karena agenda utama dapat terlaksana, menanam berbagai jenis bibit pohon guna keterjagaan mata air, apalagi mayoritas mereka yang menanam adalah generasi muda, generasi harapan bangsa. Target kegiatan lainnya pun tidak terpenuhi, yaitu memperkenalkan alternative paket wisata yang ada. Namun puas terasa di hati, karena telah berhasil menumbuhkan rasa peduli ke generasi pengganti.   Semoga kepedulian ini abadi, mata air tetap terjaga sehingga tak perlu muncul air mata, Aamiin.
credit by: Ari Garmono

credit by: Ari Garmono
By The Way, tulisan ini diposting bertepatan dengan Hari Bumi 22 April, apakah yang sudah kita lakukan tuk memperingati?

"Katakanlah (Muhammad), terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering, maka siapa yang akan memberimu air yang mengalir"  (QS. 67:30).

Monday, April 10, 2017

Branding Pesona Indonesia sebagai Upaya Memajukan Pariwisata

Indonesia, itulah negara kita tercinta, negeri kepulauan dengan sejuta potensi yang ada. Namun sayangnya masih banyak dari potensi-potensi tersebut yang belum tergarap secara maksimal, yang andaikata dikelola dengan baik dan benar akan dapat menambah pemasukan bagi negara. Dari sekian banyak potensi tersebut, ada satu potensi penting saat ini yang mulai digarap secara serius oleh pemerintah, yaitu potensi pariwisata. 
Berbicara mengenai pemasukan bagi negara dari sektor pariwisata berarti kita berbicara mengenai peningkatan  jumlah kunjungan wisatawan, berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan hal ini, yaitu antara lain ; meningkatkan kwalitas dan kuantitas fasilitas/sarana dan prasarana, keasrian dan kelestarian, menjaga keasrian dan kelestarian, menjaga keamanan dan kenyamanan objek wisata dan lain sebagainya. Satu hal yang tak kalah penting terkait dengan upaya peningkatan tersebut adalah penciptaan branding yang baik dan tepat sasaran.
Tarian Selamat Datang dalam Rangkaian Pembukaan
Terkait dengan hal tersebut, guna meningkatkan pengetahuan, wawasan, dan mensinergikan implementasi Branding Pesona Indonesia antara pusat dan daerah, 1 (satu) minggu yang lalu tepatnya pada tanggal 03 April 2017, Kementerian Pariwisata melalui Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara mengadakan Bimtek Branding Pesona Indonesia bertempat di Hotel Kila Senggigi Beach Lombok. Selain dihadiri para pemangku kebijakan dari dinas terkait, hal yang menarik dalam acara ini adalah hadirnya  perwakilan Genpi (Generasi Pesona Indonesia) dari 6 (enam) provinsi yang berbeda yaitu NTB, Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Sumatera Barat. 
Lap.Panitia oleh Bpk Hariyanto
Setelah laporan dari Bapak Hariyanto (Plt. Asdep Strategi Pemasaran Pariwisata Nusantara) selaku ketua panitia yang memberikan gambaran umum mengenai kebijakan pemasaran pariwisata nusantara, acara kemudian dilanjutkan dengan pemaparan dari H. Lalu M, Faozal, M.Si (Kadisbudpar Provinsi NTB). Dalam kesempatan kali ini, terkait dengan materi Pengembangan Pariwisata NTB sebagai Destinasi Wisata Halal, Kadisbudpar Prov. NTB mengutarakan mengenai capaian-capaian yang telah berhasil dilakukan dan hal-hal apa yang akan dilakukan ke depannya.
Materi ketiga tentang Creative Strategic for Tourism Acceleration disampaikan oleh Taufan Rahmadi (Tim Percepatan Pembangunan 10 Destinasi Prioritas Kawasan Mandalika) yang memaparkan tentang beberapa strategi kreatif yang telah membuahkan hasil dan strategi selanjutnya yang akan dilakukan. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi ke-4 oleh Dr. Hamsu Hanafi, MM selaku Direktur Poltekpar Negeri Lombok tentang Eksistensi dan Peran Poltekpar Negeri Lombok sebagai Institusi Pendidikan Kemenpar.
Materi utama terkait dengan Branding Pesona Indonesia disampaikan oleh Budi Rizanto Binal, dalam kesempatan kali ini beliau menyampaikan bahwa, betapa Branding menjadi suatu hal yang sangat penting. Branding bertujuan untuk membangun kehadiran yang signifikan dan menciptakan perbedaan di pasar untuk menarik dan mempertahankan pelanggan setia, dengan kata lain branding adalah salah satu untuk membuat ikatan emosional antara brand dengan konstituennya. 
Berbicara mengenai perbandingan branding yang dilakukan oleh negara kita dan negeri tetangga, beliau menyuguhkan tayangan promosi wisata dari negara tetangga tersebut kemudian di compare dengan tayangan wisata dari negeri kita. Jujur, saat itu saya terenyuh sekaligus miris, betapa branding negara tetangga tersebut sangat menyentuh, dan yang kita miliki masih standar saja. Kesimpulannya adalah apa yang diupayakan oleh negara kita dalam hal promosi wisata masih kurang maksimal. Semoga dengan terselenggaranya kegiatan ini akan timbul upaya-upaya yang lebih maksimal dari Pemerintah, Pelaku/Penggiat pariwisata, Masyarakat pada umumnya dalam memperkenalkan dan mempromosikan potensi-potensi wisata yang ada. Aamiin Yaa Rabb.
Suasana Bimtek








Monday, March 13, 2017

Wisata Hemat, Sehat, Penuh Manfaat di Bukit Tinggi Lombok


"Salam Hangat Mentari Pagi"


Kucluk-kucluk, smartphone saya berbunyi, ada ajakan dari sebuah grup WA yang bernama Waterfall Lovers untuk mengunjungi Bukit Tinggi. Eh buset, pikir saya dalam hati, belum lagi genap satu bulan grup ini terbentuk udah mau ke luar daerah, hebat kali. Pertanyaan kembali berkelindan dan membebani fikiran ( syukurlah tidak sampai membuat saya kesurupan :p ), mengunjungi sebuah kota terbesar kedua di Sumatera Barat, ada apakah gerangan, studi banding tentang air terjunkah, apa yang akan distudi bandingkan? Bukankah semua air terjun sama saja? Jangan-jangan di sana ada air terjun yang menentang hukum alam sehingga terjunnya ke atas, bukan air terjun dong namanya, he :D .
Obrolan di grup pun berlanjut dengan pertanyaan-pertanyaan, dan akhirnya saya mendapatkan jawaban bahwa terdapat beberapa buah air terjun yang asik untuk dikunjungi.
Desa Bukit Tinggi itulah nama destinasi wisata tersebut, terletak di kecamatan Gunung Sari kabupaten Lombok Barat, akhirnya dengan berketetapan hati dan dibalut rasa penasaran, sayapun mengiyakan ajakan tersebut. Hari Minggu tanggal 05 Maret 2017, itulah waktu yang disepakati untuk mengunjungi desa ini, dengan melakukan janji untuk berkumpul di perempatan pasar Gunung Sari pada jam 07.00 WITA, lalu kemudian berangkat bersama menuju lokasi. Sayang beribu sayang, janji tinggallah janji, kesepakatan berangkat jam 07.00 pun harus tertunda karena menunggu pasukan yang "katanya sih sarapan". Indonesia bangetkan. He 😂...
Karena memiliki janji lain, sayapun memutuskan untuk pergi dahulu ke sebuah desa yang terletak di jalur tujuan air, desa Penimbung namanya. Ada apakah di desa ini? Biarlah cerita ini saya simpan sendiri, atau mungkin saja cerita ini akan terpublish menjadi kisah sepenggal cerita, bisa jadi  akan abadi selamanya. Entahlah, hanya Allah SWT yang tahu jawabnya, dan melalui titahNya kepada sang waktulah semua akan terjawab :D. Setelah memenuhi janji saya kembali menunggu rombongan berbekal segelas kopi. 1 (satu) jam lebih saya menunggu, namun hal itu tidak terasa menjemukan karena hamparan hijau persawahan memanjakan mata.


Menuju Desa Bukit Tinggi
Pada dasarnya bila berangkat dari kota Mataram perjalanan menuju desa ini tidaklah terlalu jauh, hanya dengan kisaran waktu 30 menit kita akan sampai ke tujuan, pemandangan menuju lokasipun teramat sangat melenakan, apalagi bila itu dilakukan bersama rombongan. Setelah menunggu di desa Penimbungan akhirnya rombongan pun datang, kamipun bergegas meluncur ketujuan. Perjalanan kali ini tidak terasa menyulitkan karena jalan sudah di aspal hotmix, hanya sekitar 2 Km jalan yang belum tertata dengan baik. Setelah sampai di desa Bukit Tinggi kami beristirahat sejenak, menunggu tim yang akan mengantar ke tujuan. Waktu menunggu ini kami gunakan untuk kembali mengakrabkan diri, karena jujur saja, kami belum saling mengenal satu sama lain.
Kami merasa beruntung, di tengah obrolan dan perkenalan yang berlangsung dapat menyaksikan khasanah budaya setempat. Pada saat itu kebetulan di desa tersebut terdapat hajatan pernikahan. Kami melihat para ibu
berjalan, memunjuk keraro (membawa barang berupa anyaman berbentuk seperti baskom) yang berisi sembako atau buah-buahan di atas kepala mereka. Barang-barang tersebut akan diserahkan kepada mereka yang berhajat untuk membantu pelaksanaan hajatan. 

Aik Kelambu
Setelah pasukan lengkap, kamipun kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini jalan yang dilewati mengecil hanya berupa gang tanah dengan tonjolan batu maupun cegokan tanah, dengan jurang di sebelah kanan dan kebun warga di sebelah kiri. Perjalanan ini kami tempuh dalam waktu kurang lebih 10 menit hingga tiba di tempat parkir motor. Setibanya di sana, kami menuju air terjun pertama yaitu Aik Kelambu.
Perjalanan menuju air terjun ini tidak sesulit yang kami bayangkan, dengan menuruni tangga semen /cor yang telah di buat dengan kualitas baik oleh Pemerintah Desa, kami dapat melenggang dengan leluasa. Suasana hutanpun mulai terasa, hal ini dapat terlihat dari pepohonan yang ada terutama jenis pohon Mahoni. Perjalanan dengan tangga semen berakhir, kami kembali menyusuri jalan tanah, namun ini tidak berlangsung lama, hanya sekitar 100 meter, kemudian kami harus menuruni tangga kayu dengan ketinggian 4 meter untuk sampai di air terjun ini. Lepas dari tangga kayu ini, akhirnya tibalah kami di tujuan pertama yaitu air terjun aik kelambu. Mengapa dinamakan aik kelambu? Karena di air terjun ini kita dapat menyaksikan air yang menetes di berbentuk kelambu disekitar air terjun utama.
Walaupun pada dasarnya saya kurang begitu sepakat dengan penamaan ini, karena kerapatan tetesan air yang kurang, bagi saya pribadi ini lebih meneyerupai jarum yang jatuh dalam jumlah banyak. 
Saya lebih cenderung menamakan air terjun ini dengan nama air terjun tetesan jarum, tapi siapalah saya yang cuma butiran debu di padang pasir yang luas :p .Seperti yang terjadi di era kekinian, kamipun akhirnya bernarsis ria di iringi tingkah polah jenaka. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan.




Tibo Tereng
Berarti tempat berendam yang dikelilingi bambu, Tibo Tereng berada tidak jauh dari lokasi air terjun pertama (aik kelambu), untuk menuju lokasi ini, kami harus menyusuri aliran sungai sekitar 10 menit. Indera  kami kembali dimanjakan  dengan rimbunnya pepohonan, dinginnya air sungai yang kami susuri, bebatuan unik yang entah apa namanya, gemericik air dan sesekali ditingkahi oleh suara kicau burung. Di sini kami harus lebih berhati-hati karena beberapa titik di jalur yang kami lalui ini lumayan licin.

Kejutan pertama kami dapatkan ketika kami berjumpa dengan sebuah air terjun dengan lansekap landai dengan panjang sekitar 20 Meter, ketinggian sekitar 3 Meter. Kamipun kembali sibuk bereksistensi, mencoba mengambil gambar dengan sudut-sudut terbaik, maupun dengan menggunakan beberapa rekan perjalanan sebagai model foto dadakan. Setelah berpuas mengabadikan moment yang ada, perjalanan kembali dilanjutkan.
Kang Ari Garmono dan Istri
Ternyata oh ternyata, lokasi yang kami tuju tepat berada di atas air tejun landai ini. Maha Kuasa Allah dengan segala keindahan yang diciptakanNya. Kalimat lirih ini terucap ketika menjumpai air terjun tujuan kami Tibo Tereng, Air Terjun ini memang hanya memiliki ketinggian kurang dari 3 (tiga) meter, tapi pesona yang dipancarkan sangatlah luarrrrbyasahhh. Lokasi ini memiliki dua air terjun pendek dengan spot jumping dari berbagai sudut. Jujur, ketika berada di air terjun ini saya merasa iri dengan kemesraan yang ditunjukkan oleh seorang punggawa air terjun Lombok yang asik bercengkrama sambil memakan bekal yang mereka persiapkan. it's very sweet moment. Namun apalah daya, siapalah saya yang cuma butiran molekul proton yang masih berusaha mencari neutron :( . Keirian itupun akhirnya terhapus ketika saya mencoba melakukan aksi jumping di lokasi ini, dan sayapun bahagia :D.
Berakhirkah perjalanan ini? Ternyata belum, masih ada 1 (satu) air terjun lagi yang akan kami kunjungi, jadi jangan jenuh membaca ya :) .

Air Terjun Batu Nisan
Lepas bermanja-manja dengan tibo tereng, kamipun kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini lokasi yang dituju adalah Air Terjun Batu Nisan, dengan waktu tempuh kurang lebih 1 (satu jam). Mendengar namanya tentu yang terbayang adalah suasana mistis dan menyeramkan. Ternyata tidak seperti itu adanya, air terjun ini sama seperti air terjun lainnya, hanyalah kumpulan air yang jatuh :D.
Untuk menuju air terjun ini kami sekali lagi harus rela berbasah-basah, kami kembali menyusuri sungai dan hutan, entahlah ini hutan beneran atau HKm, yang jelas kami melihat ada beberapa pohon pisang yang mulai berbuah. Jalur kali ini jauh lebih mengasyikkan dari sebelumnya, vegetasi semak yang rapat dan sama sekali tidak terlihat sampah plastik mengindikasikan bahwa tujuan kami sangatlah jarang dikunjungi. Ada tantangan tersendiri ketika kami mencoba memanjat sisi air terjun kecil dengan tinggi kurang lebih 4 (empat) meter, bebatuan yang licin membuat kami harus memasang alat bantu berupa tali pengaman. Setelah melewati tahapan yang mendebarkan ini, suara gemuruh air terdengar semakin jelas. Benar saja kurang dari 50 meter di depan, mata kami kembali di manjakan oleh pesona. Ya, akhirnya kami tiba di air terjun terakhir dalam perjalanan kami kali ini. Spontan, bibir ini kembali berucap lirih, memuji kebesaran dan KuasaNya.
Setelah berlama-lama menikmati keindahan dan tentu saja berfoto ria, kamipun memutuskan untuk kembali. Bubar jalankah kami setibanya di tempat parkir? Tentu saja tidak, kami melanjutkan obrolan, berkenalan ulang, dan yang paling penting adalah pemetaan potensi wilayah ini. 
Teramat sangat disayangkan bahwa di desa ini belum terbentuk PokDarWis sehingga potensi yang ada belum terkelola secara maksimal, hal itulah yang coba kami sampaikan ke beberapa teman perjalanan (penujuk jalan), karena apabila potensi dapat dikelola secara maksimal, dengan jarak yang tidak terlalul jauh dari ibukota Provinsi Mataram, lokasi ini bukan tidak mungkin akan menjadi lokasi favorit, dan tentu saja pasti akan berdampak positif bagi kemashlatan umat, wabilkhusus di desa Bukit Tinggi. Selain itu dalam obrolan dan diskusi kecil, sesuai dengan tujuan dibentuknya komunitas ini, maka kami mencoba menyusun rencana kegiatan selanjutnya, hal apakah yang akan dilakukan dan bagaimana caranya? Tunggu ulasan selanjutnya :D .

"Berjumpa Sahabat Baru, Mentadabburi ciptaanMU, sungguh nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan"

"Salam Hangat Secangkir Kopi"