Wednesday, May 2, 2018

KRIDA HONDA NTB DAN UPAYA MEMANJAKAN KONSUMEN

A: “Montor ape te kadu tie?”
B: “Honda M*^ (tipe motor dari merek lain)”
Terjemahan bebas:
A: “Motor apa yang dipakai?”
B: “Honda M*^ (tipe motor dari merek lain)”

Pernahkah kalian mendengar percakapan macam ini? Sebuah percakapan rancu dimana dalam percakapan tersebut menyebutkan motor Honda, namun tipe yang disebut berasal dari merek motor berbeda. Saya pribadi sering sekali mendengarnya, terutama ketika masih bekerja sebagai Field Staf di sebuah perusahaan pembiayaan motor.
Bagi anda yang berasal dari beberapa kabupaten di Pulau Lombok, pastinya juga sering mendengar percakapan sejenis. Ternyata ini  bukan hanya berlaku di Pulau Lombok, namun juga di Pulau Sumbawa, dalam hal ini sepengetahuan saya terjadi di Kabupaten Dompu, Kota Bima dan Kabupaten Bima. Mereka menyebut segala jenis merek motor dengan sebutan Honda.
Kesimpulan yang dapat diambil dari fakta di atas adalah, bahwa Honda sudah sangat melekat di hati masyarakat. Itupula yang terjadi pada saya, gak percaya? Simak aja uraian lengkapnya.

Honda C70 ku

Kisah berawal dari dimulainya masa perkuliahan. Kesulitan transportasi umum di Mataram semasa kuliah (masih berlaku sampai sekarang), membuat saya pada saat itu memohon kepada orang tua untuk membelikan saya sebuah kendaraan (motor). Dana yang seadanya membuat saya tidak mempunyai banyak pilihan. Dengan uang kurang dari 2 Juta, saya putuskan untuk membeli sebuah motor second, dan pilihan saya jatuh ke Honda C70, sebuah motor klasik yang unik, asik dan hampir antik. Namanya juga motor tua, tidak selamanya berfungsi dengan normal, ada saja penyakit yang muncul, mulai dari karburator, busi, dan lain-lain. Tapi itu tidak mengurangi rasa cinta saya terhadap motor ini. Seiring berjalannya waktu, takdir berkata lain, saya harus mengalah, motor tersebut  akhirnya saya pindah tangankan dengan hati sedih karena ketidaksanggupan saya terhadap biaya operasionalnya yang tinggi. Sebagai gantinya, orang tua saya membelikan motor baru (walaupun kredit, he). Pilihan kembali ke Honda, kali ini kami membeli Astrea Grand. Alhamdulillah lancar jaya,  namanya juga motor baru, he.
Tahun berganti, masa perkuliahan sudah lama terlewati, dan saya akhirnya mampu mendapatkan penghasilan sendiri melalui pekerjaan yang saya tekuni. Kecintaan saya terhadap Honda C70 membuat saya menyisihkan penghasilan untuk membeli kembali motor jenis ini. Alhamdulillah, finally dana terkumpul dan saya bisa memiliki kembali motor jenis ini, Honda C70, tidak yang lain.

Mengunjungi Krida Honda NTB

“Minggu besok ada acara loh di Krida Honda NTB, ada yang mau ikutan gak?” 
Begitu isi percakapan di sebuah WAG. Kecintaan saya terhadap motor Honda membuat saya langsung meng-iyakan ajakan tersebut. Siapa tau dengan mengunjungi dealer ini saya bisa mendapatkan motor gratis, he.




Minggu, 29 April 2018
Family Activity itulah acara yang digelar oleh Krida Honda NTB, dimana dalam acara ini terdapat berbagai kegiatan mulai dari Senam Zumba, Lomba Mading, Lomba Blog, Safety Riding Class, hingga Hijab Tutorial. Acara ini sendiri bertujuan untuk memperkenalkan Dealer dan show room mereka yang ciamik banget seperti terlihat pada video di bawah ini 😊.


Bagaimana? Kerenkan?
Ya, Krida Honda NTB memiliki dealer baru.
Setelah sebelumnya berlokasi di Jalan Pejanggik, sekarang Krida Honda NTB pindah ke Jalan Gajah Mada No. 88  Jempong Baru Kec. Sekarbela Kota Mataram, (utara Kampus II UIN Mataram). Bila ada yang ingin ditanyakan kalian bisa menghubungi Krida Honda NTB melalui: 
Telepon: (0370) 630000
FB Fanpage: Krida Honda NTB
IG: @kridahondantb
chanel youtube: Krida Honda NTB. 

Krida Honda NTB  (klik untuk info lebih detail)


Bicara tentang dealer. Krida Honda NTB bukan sembarang dealer, dari total tanah kurang lebih 30 are, dealer ini memiliki bangunan gedung megah berlantai dua yang terdiri dari ruang display, ruang tunggu VIP, bengkel, ruang meeting, area test drive, dua buah musholla, dll.

Ruang Tunggu VIP

Display di lantai II

Display lantai 1 terlihat dari lantai 2

Area Test Drive

Bagi mereka yang menservis motornya, telah disediakan sederet sofa empuk, coffe maker, televisi dan berbagai ragam bacaan guna menghilangkan jenuh. Tidak jauh dari ruang tunggu tersedia juga game simulator dan ruang bermain anak. Air Conditioner yang suejuke pol membuat kita betah berlama-lama menghabiskan waktu di tempat ini. Ah, rasanya jadi gak pengen pulang.

ruang tunggu servis motor



Simulator

Jadi ingat guys, beli motor jangan yang lain, pastikan Honda merknya, dan jangan lupa belinya di Krida Honda NTB.







Wednesday, April 18, 2018

FROM INDONESIA TO TIMOR LESTE WITH TOYOTA



Prolog
Mobil lawas itu memasuki parkir depan Gedung Krida Toyota NTB. Melihatnya mengingatkan saya akan kenangan lama, sebuah Kijang Toyota yang pernah dimiliki oleh orang tua.
Ya, orang tua saya pernah memiliki mobil dengan jenis yang sama, dibeli oleh almarhum Bapak  melalui acara lelang di kantornya. 
Taman Mini Indonesia Indah adalah tempat yang paling sering kami kunjungi, suara berderak dari rongga kaca jendela  selalu menemani perjalanan, maklumlah namanya juga mobil tua.
Namun kali ini lain cerita, mobil lawas di atas mungkin hanya tahun keluarannya saja yang sama dengan milik orang tua saya, dari sisi ketangguhan jelas sangat berbeda, karena mobil pabrikan tahun 1979 tersebut  telah membuktikan, bahwa tua belum tentu tidak perkasa, mulai dari Jakarta hingga Timor Leste negeri tetangga, mampu dijelajahinya. Mau tau bagaimana serunya, berikut cerita selengkapnya!


Beyond Wonderful Indonesia with Toyota
Kamis 29 Maret 2018, 17 orang yang tergabung dalam tiga komunitas mobil dengan merk Toyota mulai melakukan journey. Velozity, TKCI, dan Tosca  itulah nama ketiga komunitas tersebut, dengan menggunakan 2 unit Toyota Avanza Veloz, 1 unit Toyota Kijang tahun 1980, 1 Unit Toyota Sienta, mereka memulai perjalanan dari Jakarta menuju negeri tetangga, Timor Leste. Perjalanan dengan jarak lebih dari 8000Km dengan rute Jakarta – Bali –Lombok – Sumbawa – Pulau Moyo – Bima – Sape - Labuhan Bajo – Ende – Larantuka -  Kupang – Atambua – Dili ini mereka tempuh dalam waktu 21 hari (pulang pergi). Gila, sungguh luar biasa! Membayangkannya saja bagi saya sudah sangat menggairahkan, apalagi mengalaminya secara langsung.

For Your Information, perjalanan ini adalah yang ke-5 kalinya diadakan oleh komunitas-komunitas ini. Pada tahun – tahun sebelumya mereka sudah melaksanakan kegiatan serupa dengan tujuan berbeda. Mulai dari Bali, Sabang (Pulau We), Sulawesi, Brunei dan yang terakhir sekarang ini, negeri tetangga Timor Leste



Krida Toyota Melepas Tiga Komunitas Kembali Ke Jakarta
Selasa 17 April 2018, 3 unit mobil yang tergabung dalam journey ini tiba di Krida Toyota NTB setelah sebelumnya melakukan perjalanan non stop dari Timor Leste, sementara 2 unit mobil lainnya telah tiba lebih dulu dan melakukan kegiatan Explore Lombok bersama komunitas yang ada di pulau ini. Dukungan dari Krida Toyota jelas terlihat pada kegiatan ini, Tim ini disambut dengan meriah melalui pemberian kain songket dan suguhan tari tradisional khas Suku Sasak, yang kemudian dilanjutkan oleh sambutan dari owner Krida Toyota NTB. 

Setelah acara seremonial, sessi berikutnya adalah mendengarkan kisah perjalanan tim ini. Hal menarik dari apa yang mereka sampaikan adalah, bahwa tidak ada kerusakan berarti yang dialami oleh kendaraan mereka. Beratnya rute, terutama di daerah NTT juga menjadi sebuah tambahan informasi bagi kami yang hadir. Selain itu mereka juga menceritakan mengenai betapa indahnya negeri kita tercinta ini. Hmmm, wonderful Indonesia, I Love You Full pokoknya.


Acara ramah tamah selesai, kemudian dilanjutkan pelepasan tim secara simbolis untuk kembali ke Jakarta. Ah, sungguh acara yang sangat mengesankan, mendapatkan informasi  mengenai negeri tercinta dan merasakan atmosfir dari mereka yang berani menjelajahi nusantara. Sungguh, acara ini menambah rasa cinta terhadap negeri . Terimakasih Krida Toyota yang sudah memberikan kesempatan kepada saya untuk berpatisipasi.


Epilog
Setiap perjalanan pasti menghadirkan kisah, semoga setiap perjalanan yang kita lakukan menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat pada umumnya dan pribadi kita pada khususnya.

Explore Lombok credit by IG: @velozity




Explore Lombok credit by IG: @velozity






sekali - kali narsis bolehlah :)





Wednesday, February 14, 2018

Tentang Dilan dan Libur Lebaran


 Monas

Tentang Dilan
Jangan rindu
Ini berat
Kau tak akan kuat
Biar aku saja

Ada yang tau quote ini? Bagi mereka yang kekinian otomatis pasti tau lah ya, secara quote ini sempat viral minggu – minggu belakangan. Dilan, dialah sang pemilik quote, tokoh dalam novel karangan Pidi Baiq dengan tema percintaan anak SMA era tahun 1990an  yang kemudian di filmkan dan booming hingga mendarah daging.
Terus apa hubungannya Dilan dengan libur lebaran? Apakah saat Dilan libur lebaran dia datang ke rumah orangtua Milea dan melamarnya?
Pada dasarnya nggak ada hubungannya sih, jelas Dilan tidak pergi melamar Milea, ini hanya bisa-bisaan saya aja cari momentum yang pas, biar tulisan ini dapet viewers yang banyak, he.
Trully,  sebenarnya sayalah yang datang melamar istri saya ketika libur lebaran kemarin. Saya memang bukan Dilan, tapi saya hidup di eranya, masa di mana menunggu surat cinta balasan melalui perantaraan teman membuat deg-degan, atau saat naik angkot bersama gebetan jantung jadi dag dig dug tak karuan, dan puluhan moment lainnya yang bila diingat kembali akan membuat diri merasa malu sendiri, kok bisa ya saya dulu semacam itu.
Jadi, sekali lagi saya tekankan, ini adalah sebenar-benarnya kisah tentang saya, bagaimana saya menjalani libur lebaran dalam suasana suka cita dan akhirnya menikahi istri saya tanpa proses pacaran. Penasarankah? Bagi yang penasaran silahkan dilanjut membacanya, semoga ada ibrah yang bisa didapat, bagi yang mau left juga monggo, tapi baca dulu kisahnya sampai habis (sama aja ya).

Proses Perkenalan
Pagi hari, tanggal 13 bulan Mei tahun 2017, jam menunjukkan pukul 09.40 WITA, saya lupa sedang apa saat itu, tetiba smartphone saya berbunyi, kucluk, begitu bunyinya. Sebuah pesan dari seorang teman di masa SMP  bertanya perihal Pulau Lombok, tempat saya berdomisili. Ini lumrah terjadi seiring dengan makin dikenalnya keindahan Lombok, saya sering mendapatkan pertanyaan dari teman-teman yang berdomisili di daerah-daerah lain. Ketika obrolan tentang Lombok selesai, sekonyong-konyong koder ybs menanyakan status pernikahan saya dan kemudian mencoba mengenalkan saya dengan seseorang yang ternyata adiknya sendiri. Karena status saya saat itu memang jomblo fisabilillah (memperhalus istilah jomblo akut, he), maka saya terima tawaran perkenalan tersebut, tentu saja dengan niatan untuk menikah bila merasa ada kecocokan.
Setelah saya diberikan nomor si do’i, sayapun mulai aktif mengirimkan pesan, bertanya segala sesuatu tentangnya pun sebaliknya. Hal ini berlangsung kurang dari dua bulan, dan Alhamdulillahi Rabbil’aalamiin dengan mengucapkan Basmalah, kami mantapkan tekad untuk coba menapak ke tahap berikutnya.

Merajut Impian Saat Libur Lebaran
Perantau, mungkin itu predikat yang tepat untuk saya (mungkin loh ya). Seperti lazimnya masyarakat Indonesia yang jauh dari keluarga, libur lebaran adalah saat yang tepat mengunjungi keluarga, sungkem dengan orang tua, saudara, sahabat dan handai tolan, itu pula yang biasa saya lakukan. Namun, libur lebaran saat itu terasa lebih istimewa, saya akan berjumpa langsung dengannya. Dia yang akan mengisi ruang hati, temani sepi, berbagi bahagia selamanya. Melalui pesan via smartphone kami sepakati bahwa perjumpaan akan dilakukan H-1 lebaran.
Sabtu 24 Juni 2017 , matahari belum lagi tinggi, dengan mengucap Basmalah, saya mantapkan langkah menuju rumah orangtuanya, dengan  harapan tersemat di dada, bahwa apa yang saya ikhtiarkan mendapatkan ridho dan berkah, dari Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa. Perjumpaan ini adalah kali yang pertama, disaksikan oleh orang tua dan kakaknya. Deg-degan, itu pasti,  tapi Alhamdulillahi Rabbil’aalamiin dengan kuatnya tekad, hal itu tidak menjadi kendala, obrolanpun mengalir bagai air.
Setelah kurang lebih 1 jam percakapan, saya pun pamit undur diri, tentu saja dengan berkeyakinan hati, bahwa dialah yang nanti menjadi penyeimbang dalam hidup ini, bahwa kami akan bersama selamanya, hingga Jannah nanti (Insyaa Allah, Aamiin Yaa Rabb).
Sesampainya di rumah, kami kembali saling mengirimkan pesan, mencoba saling menguatkan dan meyakinkan. Akhirnya, setelah beberapa hari percakapan saling menguatkan dan meyakinkan, didapat kesepakatan bahwa saya akan kembali untuk melamarnya secara pribadi sekembalinya dia dari mudik.
Jum’at 30 Juni 2017, matahari sepenggalan galah, saya kembali melangkah, dengan niat suci, meminta persetujuan orangtuanya  untuk menjadikannya calon istri. Kedatangan saya di sambut dengan hangat, obrolan lancar bercerita seputar perjalanan mudik keluarganya. Namun tetiba, di saat obrolan berlangsung suasana menjadi hening, hati saya pun membatin, inilah saatnya untuk utarakan itikad baik. Kata “ya” yang terucap dari mulut orang tuanya membuat hati ini terasa lega. Akhirnya  satu tahap terlewati. Alhamdulillahi Rabbil’aalamiin.
Sepulang dari rumahnya, saya umumkan kabar gembira ini kepada keluarga, terutama Ibunda. Ya, ihwal kedekatan saya dengan si dia memang tidak saya umumkan sebelumnya, ini saya lakukan karena tidak ingin keluarga terlalu banyak berharap sebelum semuanya pasti. Ketika kepastian sudah saya dapat baru saya akan bermaklumat, begitu fikir saya waktu itu.

Bersepeda Gila di Ibukota
“Kak, ayo kita sepeda’an hari Minggu (Car Free Day)” , sebuah pesan masuk dari si dia. Saya bingung harus menjawab apa, menolak takut ybs tersinggung, menerima takut hubungan ini ternodai, agak alay memang jika mengganggap hubungan akan ternoda hanya karena bersepeda, apalagi kami tidak berboncengan. Namun sejatinya saya hanya berusaha menjaga hubungan ini tetap suci, saling menjaga diri hingga tiba waktunya nanti. Setelah melalui perenungan panjang, saya putuskan untuk mengiyakan ajakan tersebut, dengan syarat posisi saya harus selalu berada di depannya selama berkendara (walaupun akhirnya pada beberapa moment si dia berada di depan saya). Saya bukan sok suci, sok alim atau apalah. Dengan masa lalu yang lumayan mengharu biru, saya hanya berusaha menjadi pribadi yang lebih baik menurut agama yang saya anut.

Minggu subuh, Sang Surya belum menampakkan hidungnya, kami sudah mulai mengayuh sepeda. Awalnya saya mengira jarak yang akan kami tempuh dekat, ternyata oalah, kami bersepeda kurang lebih 25 Km. Rute yang kami tempuh tidak tanggung-tanggung, berawal dari Perumnas Klender Jakarta Timur melintasi Rawamangun, Tugu Proklamasi hingga tiba di Bundaran HI untuk makan pagi. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju masjid Al-Azhar di Jakarta Selatan. Perjalanan pulang kami putuskan melewati Sudirman lalu masuk ke arah Manggarai kemudian memutar ke Tebet dan berakhir di jalur BKT.  Hufffht, cape deh.
 Untuk mereka yang hoby bersepeda hal ini mungkin biasa saja. Tapi untuk saya, momen ini terasa gila, ampunnya tak tertahankan, pegal terasa di seluruh badan. Namun itu tidak saya tunjukkan, gengsilah, masa kesan pertama terlihat lemah, he.
Ada ujar-ujar lama mengatakan, bila ingin mengetahui karakter asli seseorang, lakukanlah perjalanan bersama yang melelahkan, di saat lelah itulah maka karakter asli akan terlihat. Itu pula yang terjadi pada episode perjalanan bersepeda gila saya. Dalam perjalanan pulang, lelah mulai terasa, di sanalah sifat asli muncul, dan dari sanalah kami bisa saling mengoreksi dan instropeksi. Saya bersyukur, tak perlu waktu bertahun-tahun untuk mengetahui karakter orang yang akan saya nikahi, cukup satu hari, ya cukup satu hari dengan cara bersepeda gila di ibukota.

Lamaran dan Menikah
Libur telah usai, saya pun harus kembali menjalani aktivitas, namun tekad dalam hati untuk mempersunting si dia sudah begitu kuat. Setelah beberapa kali rembug, akhirnya disepakati lamaran oleh keluarga (saya tidak hadir) dilangsungkan pada awal September, dan syukurlah semua berjalan lancar, dan waktu itu disepakati pernikahan akan dilangsungkan tanggal 07 Oktober 2017. Alhamdulillahi Rabbil’aalamiin semua berjalan lancar. Saya dan Umi Kulsum akhirnya resmi menjadi pasangan suami istri. Semoga abadi…
Aamiin Yaa Rabb...



Dilan,
Rindu itu berat
Apalagi bila diiringi syahwat
Terutama bila kata SAH belum kau semat
Karena bisa jadi akan berujung maksiat



 oh iya berbicara tentang liburan silahkan klik link ini, keren abis guys.

Wednesday, November 1, 2017

Diskon Besar, Inovasi Tiada Henti dari Blue Bird Grup, Lombok Taksi

H-2
“Hari apa, kapan dan di mana acaranya?”  Itu pertanyaan saya kepada salah seorang senior di dunia  perbloggeran  lewat jaringan pribadi ihwal kegiatan ini. Omelan pun akhirnya datang bertubi karena malas menyimak obrolan di grup. Efek males manjat ketika isi chat grup melebihi 50 (lima puluh) percakapan  membuat saya terkadang ketinggalan berita penting dalam grup. Jadi ya, beginilah akibatnya.
Untunglah senior saya ini penyabar, baik hati, tidak sombong n doyan ngemil. Dengan sikap mengayomi dan welas asih, dia membimbing saya menuju jalan yang lurus, jalan blogger, menjadi blogger yang sebenar-benarnya blogger atau blogger kaffah istilah keren buatan saya, he, apa coba. Intinya senior ini mengingatkan saya untuk fokus buat anak, eh. Maksud saya, beliau mencoba menanamkan untuk fokus bila mengerjakan/melakukan sesuatu.

Hari H
Ba’da Maghrib, Selasa 31 Oktober 2017. Dari Ampenan, saya larikan motor dengan ngebut yang pelan-pelan menuju arah timur. Saya takut akan terlambat menghadiri kegiatan ini, saya terobos lampu merah ketika lampunya menyala hijau. Kurang lebih 10 menit kemudian saya pun tiba di lokasi, ketakutan saya akan terlambat membuat saya terburu-buru tapi selow  memasuki hotel, menaiki lift menuju roof top, tempat kegiatan ini dilaksanakan yaitu Sky Resto Hotel Golden Palace Mataram.
Alhamdulillah ya, tetiba saya di sana ternyata lokasi masih sepi, baru terlihat 3 (tiga) orang blogger senior di sana. Saya pun melihat jam, waktu sudah menunjukkan lewat pukul 19.00, tapi kok kenapa sepi ya, fikir saya. Astaga, saya lupa, ini Indonesia, negara di mana keterlambatan merupakan hal yang biasa, he. Tapi itu tidak berlangsung lama, belumlah  sepeminuman teh, lokasi mulai ramai dipenuhi tamu undangan, saya bersama 15 blogger senior saya, 8 General Manager hotel, dan tentu saja rombongan pimpinan Lombok Taksi (Blue Bird Group).
credit by: Alfian Hoki

Penandatanganan MoU antara Lombok Taksi dengan delapan buah hotel yang ada di Lombok. Wow, Marvelous, inovasi tiada henti dari Lombok Taksi memang semakin tak terkendali, setelah sebelumnya melakukan MoU dengan beberapa pihak, antara lain Sasaku,  Lombok Elephant  Park, Inul Vista, The Garden Restaurant, dll, kini tidak tanggung-tanggung, delapan hotel langsung di ajaknya bekerja sama. Sungguh pencapaian yang luar biasa.
Siapakah yang diuntungkan dari kerjasama ini?
Jawabannya sudah pasti konsumen,  berikut variasi potongan harga yang akan didapatkan bagi mereka yang menginap di salah satu dari delapan hotel tersebut:  
1.    Living Asia
Room : 20%  (best available rate)
Spa     : 10%
2.    Holiday Resort
Room       : 20%
F&B         : 15%
Spa          : 40%
Laundry  : 25%
3.    Golden Palace
Room      : 55% (Publish Rate)
F&B         : 15%
Spa          : 15%
Karaoke  : 15%
4.    DMax
Room      : 40% (Publish Rate)
F&B         : 10%
Spa          : 20%
5.    Lombok Astoria
Room      : 53%  (Publish Rate)
F&B         : 20%
6.    Lombok Raya
Room      : 20 – 45%  (Publish Rate)
7.    Lombok Plaza
Room      : 40%  (Publish Rate)
F&B         : 10%
Karaoke  : 15%
8.    Aston Inn
Room      : 50%  (Publish Rate)
F&B         : 15%
Bagaimana, sungguh luar biasa bukan? Lalu bagaimana caranya agar konsumen bisa mendapatkan diskon ini? Caranya gampang,
  1. Unduh aplikasi My Blue Bird
  2. Gunakan aplikasi tersebut untuk menuju lokasi hotel yang ada dalam daftar di atas.
  3. Tunjukkan riwayat perjalananmu (dalam aplikasi tersebut) ke front office, resepsionis di hotel tersebut.
Ayo, disegerakan, jadikan liburan anda berkesan.
Oh iya, terkait dengan MoU ini, kami para blogger mendapatkan kehormatan untuk menginap di hotel-hotel yang tersebut di atas, dan saya mendapatkan kesempatan untuk staycation di Living Asia, berikut sedikit ceritanya.

Sedikit Tentang Living Asia


Mungkin ini yang dinamakan berkah berkeluarga, status sebagai pengantin baru membuat saya bersama seorang blogger pengantin baru namun agak lama mendapatkan hotel yang uapik pol, kece begete. Lalu, apa yang akan kami lakukan di sana? Plis ga usah kepo lah, yang jelas <^”*#*”*>  titik.

Terletak di Kabupaten Lombok Utara (satu jalur dengan kawasan wisata senggigi) tepatnya di Desa Lendang Luar, hotel yang belum 2 (dua) tahun  berdiri ini sangatlah nyaman, suasana damai asri sangat terasa sekali. Hotel ini memiliki 66 kamar dengan 6 type berbeda. Kami mendapatkan kamar dengan type Garden View, selain itu ada juga type ocean view dan lain-lain.

Hotel ini memiliki 1 (satu) buah kolam renang, restaurant dan beach bar dengan view laut. Selain itu hotel ini juga memiliki fasilitas spa yang memiliki display menarik.





Arah timur kau lihat hijaunya perbukitan, tengok barat kau lihat birunya lautan, suasana sepi nan asri membuat diri betah berlama-lama di sini, apalagi kunjungan ini bersama sang istri, hmmmmmmmm.
Ingin rasanya saya rangkai penuh, pengalaman ini menjadi satu tulisan utuh. “Gelora Senja di Living Asia” itulah kira-kira judulnya. Jangan piktor gara-gara baca judulnya ya, he.


Penutup
So, What are you waiting for? Ayo piknik, rasakan sensasi menginap di hotel yang sudah bekerja sama dengan Lombok Taksi/ Blue Bird Group dan dapatkan diskonnya.


Saturday, October 28, 2017

Dinner Menyenangkan di The Garden Restaurant


Mobil yang mengantarkan kami baru saja tiba, seorang wanita berambut pendek ala Demi Moore dalam film Ghost menghampiri. “Selamat datang di the garden restaurant!”  Itulah kata  yang terucap dari mulutnya.  Dina nama wanita tersebut, beliau adalah general  manager di restauran ini. Setelah berbasa-basi sejenak, kami pun diantarkannya menuju meja yang telah disediakan, tampak rombongan grup pimpinan Lombok Taksi, rekan blogger dan wartawan telah hadir dan asik mengobrol.
Untuk kesekian kalinya saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti kegiatan penandatanganan kerjasama (MoU) antara Lombok Taksi dengan sebuah restauran. Ketika ajakan itu datang tanpa tedeng aling-aling saya meng-iyakannya. Beruntungnya saya, karena dalam kesempatan ini diperkenankan mengajak istri  tercinta, dan  dalam kesempatan ini saya mendapatkan dua keuntungan sekaligus, selain bisa mengajak istri untuk melihat kehidupan malam di Kawasan Wisata Senggigi, saya juga dapat merasakan nikmatnya hidangan di salah satu restoran ternama secara gratis tis tis, he.

The Garden Restaurant, itulah nama restauran beken nan kece ini. Design bangunan utama berbentuk letter U yang terbuat  dari kayu, display foto repro ukuran besar tentang Lombok di masa lalu, dan bermacam jenis tanaman yang menghiasi, menghadirkan suasana nyaman siapapun yang mengunjungi tempat ini.

Udara  malam terasa hangat, alunan musik dari home band mengiringi obrolan seru kami. Tetiba musik berhenti,  kami pun memasuki acara inti, yaitu penandatanganan MoU antara The Garden dan Lombok Taksi. Sebuah kerja sama yang dimaksudkan untuk memberikan kepuasan bagi konsumen/pelanggan. Tidak tanggung-tanggung, Diskon 20% diberikan bagi tamu yang menikmati makanan dan minuman di tempat ini.

Acara inti selesai, sesi serangan malam pun dimulai, untuk hidangan pembuka pihak restaurant menghadirkan appetizer untuk kami berupa salad yang berisi sayuran segar dan udang dengan penyajian yang mempesona. Selain salad, dalam sesi appetizer juga dihadirkan makanan cantik dan unik berbentuk lumpia (saya lupa namanya) yang berasal dari Vietnam. Walaupun berbentuk seperti lumpia, namun hidangan ini tidak digoreng, kulitnya yang transparan dengan tampilan sayuran di dalamnya membuat kami penasaran untuk mencoba, dan Alhamdulillah ya, enak, he.

Lima menit berlalu, hidangan pembuka telah kami nikmati, di hadapan kami kini hadir main course atau hidangan utama. Seafood yang terdiri lobster, kepiting, kerang, udang, dan aneka ikan tersaji dalam satu wadah. Di meja kami sendiri telah tersedia dua macam sajian yang aromanya sangat menggugah selera, Chicken Steak di hadapan saya, dan Australian Beef Steak di hadapan istri tercinta.

Meja hampir penuh terisi, namun pramusaji kembali datang membawakan satu jenis lagi hidangan utama. Eksklusif Thali, itulah namanya, makanan khas India yang merupakan ciri khas dari restaurant ini. Untuk di Kawasan Wisata Senggigi, hanya restaurant inilah yang menyajikan menu ini.

Satu, dua, tiga. Acara makan memakan pun dimulai, dengan kalap namun khidmat kami mulai menikmati hidangan. Beruntungnya saya dan istri mendapatkan menu yang berbeda, jadi kami bisa saling bertukar makanan untuk sama-sama merasakan nikmatnya hidangan yang tersedia.
Chicken Steak dan Beef Steak tandas dengan sempurna, entah karena lapar atau memang maruk karena rasa enak yang merasuk,  kami beralih ke menu seafood di meja sebelah, lambaian capit kepiting seakan memanggil kami untuk segera menuntaskan apa yang tersedia. Hmmm, enak, enak, enak.
Perut sudah terasa penuh, makanan dan minuman segar sudah kami rasakan, tapi ternyata ini semua belum selesai, pramusaji kembali menghantarkan hidangan dessert (pencuci mulut). Pudding dengan fla eskrim berbagai bentuk tersedia di meja. Sungguh ini menjadi malam yang sempurna dalam hal makan memakan. Pelayanan prima, hidangan luar biasa, membuat kami terbuai dan merasa seperti raja.

Hal yang menarik dari The Garden, restauran ini tidak hanya berusaha memberikan kepuasan pengunjung yang datang, namun juga berusaha juga menjaga kesehatan pengunjung dengan cara tidak menggunakan MSG dalam semua masakannya.
Bagaimana, tertarik untuk merasakan nikmatnya makanan dan nyamannya sebuah restaurant, datang dan kunjungi saja The Garden Restaurant. Untuk mendapatkan diskon gunakanlah Applikasi My Blue Bird, pesan taksi melalui aplikasi ini, dan tunjukkan riwayat perjalananmu ke meja pembayaran, diskon 20% akan segera kamu dapatkan. Bagi yang belum memiliki applikasinya silahkan download di sini.
Oke Guys, jadi tunggu apa lagi, segera datang dan nikmati cita rasa tinggi di the garden restaurant.