Monday, March 13, 2017

Wisata Hemat, Sehat, Penuh Manfaat di Bukit Tinggi Lombok


"Salam Hangat Mentari Pagi"


Kucluk-kucluk, smartphone saya berbunyi, ada ajakan dari sebuah grup WA yang bernama Waterfall Lovers untuk mengunjungi Bukit Tinggi. Eh buset, pikir saya dalam hati, belum lagi genap satu bulan grup ini terbentuk udah mau ke luar daerah, hebat kali. Pertanyaan kembali berkelindan dan membebani fikiran ( syukurlah tidak sampai membuat saya kesurupan :p ), mengunjungi sebuah kota terbesar kedua di Sumatera Barat, ada apakah gerangan, studi banding tentang air terjunkah, apa yang akan distudi bandingkan? Bukankah semua air terjun sama saja? Jangan-jangan di sana ada air terjun yang menentang hukum alam sehingga terjunnya ke atas, bukan air terjun dong namanya, he :D .
Obrolan di grup pun berlanjut dengan pertanyaan-pertanyaan, dan akhirnya saya mendapatkan jawaban bahwa terdapat beberapa buah air terjun yang asik untuk dikunjungi.
Desa Bukit Tinggi itulah nama destinasi wisata tersebut, terletak di kecamatan Gunung Sari kabupaten Lombok Barat, akhirnya dengan berketetapan hati dan dibalut rasa penasaran, sayapun mengiyakan ajakan tersebut. Hari Minggu tanggal 05 Maret 2017, itulah waktu yang disepakati untuk mengunjungi desa ini, dengan melakukan janji untuk berkumpul di perempatan pasar Gunung Sari pada jam 07.00 WITA, lalu kemudian berangkat bersama menuju lokasi. Sayang beribu sayang, janji tinggallah janji, kesepakatan berangkat jam 07.00 pun harus tertunda karena menunggu pasukan yang "katanya sih sarapan". Indonesia bangetkan. He πŸ˜‚...
Karena memiliki janji lain, sayapun memutuskan untuk pergi dahulu ke sebuah desa yang terletak di jalur tujuan air, desa Penimbung namanya. Ada apakah di desa ini? Biarlah cerita ini saya simpan sendiri, atau mungkin saja cerita ini akan terpublish menjadi kisah sepenggal cerita, bisa jadi  akan abadi selamanya. Entahlah, hanya Allah SWT yang tahu jawabnya, dan melalui titahNya kepada sang waktulah semua akan terjawab :D. Setelah memenuhi janji saya kembali menunggu rombongan berbekal segelas kopi. 1 (satu) jam lebih saya menunggu, namun hal itu tidak terasa menjemukan karena hamparan hijau persawahan memanjakan mata.


Menuju Desa Bukit Tinggi
Pada dasarnya bila berangkat dari kota Mataram perjalanan menuju desa ini tidaklah terlalu jauh, hanya dengan kisaran waktu 30 menit kita akan sampai ke tujuan, pemandangan menuju lokasipun teramat sangat melenakan, apalagi bila itu dilakukan bersama rombongan. Setelah menunggu di desa Penimbungan akhirnya rombongan pun datang, kamipun bergegas meluncur ketujuan. Perjalanan kali ini tidak terasa menyulitkan karena jalan sudah di aspal hotmix, hanya sekitar 2 Km jalan yang belum tertata dengan baik. Setelah sampai di desa Bukit Tinggi kami beristirahat sejenak, menunggu tim yang akan mengantar ke tujuan. Waktu menunggu ini kami gunakan untuk kembali mengakrabkan diri, karena jujur saja, kami belum saling mengenal satu sama lain.
Kami merasa beruntung, di tengah obrolan dan perkenalan yang berlangsung dapat menyaksikan khasanah budaya setempat. Pada saat itu kebetulan di desa tersebut terdapat hajatan pernikahan. Kami melihat para ibu
berjalan, memunjuk keraro (membawa barang berupa anyaman berbentuk seperti baskom) yang berisi sembako atau buah-buahan di atas kepala mereka. Barang-barang tersebut akan diserahkan kepada mereka yang berhajat untuk membantu pelaksanaan hajatan. 

Aik Kelambu
Setelah pasukan lengkap, kamipun kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini jalan yang dilewati mengecil hanya berupa gang tanah dengan tonjolan batu maupun cegokan tanah, dengan jurang di sebelah kanan dan kebun warga di sebelah kiri. Perjalanan ini kami tempuh dalam waktu kurang lebih 10 menit hingga tiba di tempat parkir motor. Setibanya di sana, kami menuju air terjun pertama yaitu Aik Kelambu.
Perjalanan menuju air terjun ini tidak sesulit yang kami bayangkan, dengan menuruni tangga semen /cor yang telah di buat dengan kualitas baik oleh Pemerintah Desa, kami dapat melenggang dengan leluasa. Suasana hutanpun mulai terasa, hal ini dapat terlihat dari pepohonan yang ada terutama jenis pohon Mahoni. Perjalanan dengan tangga semen berakhir, kami kembali menyusuri jalan tanah, namun ini tidak berlangsung lama, hanya sekitar 100 meter, kemudian kami harus menuruni tangga kayu dengan ketinggian 4 meter untuk sampai di air terjun ini. Lepas dari tangga kayu ini, akhirnya tibalah kami di tujuan pertama yaitu air terjun aik kelambu. Mengapa dinamakan aik kelambu? Karena di air terjun ini kita dapat menyaksikan air yang menetes di berbentuk kelambu disekitar air terjun utama.
Walaupun pada dasarnya saya kurang begitu sepakat dengan penamaan ini, karena kerapatan tetesan air yang kurang, bagi saya pribadi ini lebih meneyerupai jarum yang jatuh dalam jumlah banyak. 
Saya lebih cenderung menamakan air terjun ini dengan nama air terjun tetesan jarum, tapi siapalah saya yang cuma butiran debu di padang pasir yang luas :p .Seperti yang terjadi di era kekinian, kamipun akhirnya bernarsis ria di iringi tingkah polah jenaka. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan.




Tibo Tereng
Berarti tempat berendam yang dikelilingi bambu, Tibo Tereng berada tidak jauh dari lokasi air terjun pertama (aik kelambu), untuk menuju lokasi ini, kami harus menyusuri aliran sungai sekitar 10 menit. Indera  kami kembali dimanjakan  dengan rimbunnya pepohonan, dinginnya air sungai yang kami susuri, bebatuan unik yang entah apa namanya, gemericik air dan sesekali ditingkahi oleh suara kicau burung. Di sini kami harus lebih berhati-hati karena beberapa titik di jalur yang kami lalui ini lumayan licin.

Kejutan pertama kami dapatkan ketika kami berjumpa dengan sebuah air terjun dengan lansekap landai dengan panjang sekitar 20 Meter, ketinggian sekitar 3 Meter. Kamipun kembali sibuk bereksistensi, mencoba mengambil gambar dengan sudut-sudut terbaik, maupun dengan menggunakan beberapa rekan perjalanan sebagai model foto dadakan. Setelah berpuas mengabadikan moment yang ada, perjalanan kembali dilanjutkan.
Kang Ari Garmono dan Istri
Ternyata oh ternyata, lokasi yang kami tuju tepat berada di atas air tejun landai ini. Maha Kuasa Allah dengan segala keindahan yang diciptakanNya. Kalimat lirih ini terucap ketika menjumpai air terjun tujuan kami Tibo Tereng, Air Terjun ini memang hanya memiliki ketinggian kurang dari 3 (tiga) meter, tapi pesona yang dipancarkan sangatlah luarrrrbyasahhh. Lokasi ini memiliki dua air terjun pendek dengan spot jumping dari berbagai sudut. Jujur, ketika berada di air terjun ini saya merasa iri dengan kemesraan yang ditunjukkan oleh seorang punggawa air terjun Lombok yang asik bercengkrama sambil memakan bekal yang mereka persiapkan. it's very sweet moment. Namun apalah daya, siapalah saya yang cuma butiran molekul proton yang masih berusaha mencari neutron :( . Keirian itupun akhirnya terhapus ketika saya mencoba melakukan aksi jumping di lokasi ini, dan sayapun bahagia :D.
Berakhirkah perjalanan ini? Ternyata belum, masih ada 1 (satu) air terjun lagi yang akan kami kunjungi, jadi jangan jenuh membaca ya :) .

Air Terjun Batu Nisan
Lepas bermanja-manja dengan tibo tereng, kamipun kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini lokasi yang dituju adalah Air Terjun Batu Nisan, dengan waktu tempuh kurang lebih 1 (satu jam). Mendengar namanya tentu yang terbayang adalah suasana mistis dan menyeramkan. Ternyata tidak seperti itu adanya, air terjun ini sama seperti air terjun lainnya, hanyalah kumpulan air yang jatuh :D.
Untuk menuju air terjun ini kami sekali lagi harus rela berbasah-basah, kami kembali menyusuri sungai dan hutan, entahlah ini hutan beneran atau HKm, yang jelas kami melihat ada beberapa pohon pisang yang mulai berbuah. Jalur kali ini jauh lebih mengasyikkan dari sebelumnya, vegetasi semak yang rapat dan sama sekali tidak terlihat sampah plastik mengindikasikan bahwa tujuan kami sangatlah jarang dikunjungi. Ada tantangan tersendiri ketika kami mencoba memanjat sisi air terjun kecil dengan tinggi kurang lebih 4 (empat) meter, bebatuan yang licin membuat kami harus memasang alat bantu berupa tali pengaman. Setelah melewati tahapan yang mendebarkan ini, suara gemuruh air terdengar semakin jelas. Benar saja kurang dari 50 meter di depan, mata kami kembali di manjakan oleh pesona. Ya, akhirnya kami tiba di air terjun terakhir dalam perjalanan kami kali ini. Spontan, bibir ini kembali berucap lirih, memuji kebesaran dan KuasaNya.
Setelah berlama-lama menikmati keindahan dan tentu saja berfoto ria, kamipun memutuskan untuk kembali. Bubar jalankah kami setibanya di tempat parkir? Tentu saja tidak, kami melanjutkan obrolan, berkenalan ulang, dan yang paling penting adalah pemetaan potensi wilayah ini. 
Teramat sangat disayangkan bahwa di desa ini belum terbentuk PokDarWis sehingga potensi yang ada belum terkelola secara maksimal, hal itulah yang coba kami sampaikan ke beberapa teman perjalanan (penujuk jalan), karena apabila potensi dapat dikelola secara maksimal, dengan jarak yang tidak terlalul jauh dari ibukota Provinsi Mataram, lokasi ini bukan tidak mungkin akan menjadi lokasi favorit, dan tentu saja pasti akan berdampak positif bagi kemashlatan umat, wabilkhusus di desa Bukit Tinggi. Selain itu dalam obrolan dan diskusi kecil, sesuai dengan tujuan dibentuknya komunitas ini, maka kami mencoba menyusun rencana kegiatan selanjutnya, hal apakah yang akan dilakukan dan bagaimana caranya? Tunggu ulasan selanjutnya :D .

"Berjumpa Sahabat Baru, Mentadabburi ciptaanMU, sungguh nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan"

"Salam Hangat Secangkir Kopi"


33 comments:

  1. Sip..bikin racun pengen balik lagi ke lombok

    ReplyDelete
  2. Yuk kesana.... Mandi di sangat πŸ˜€

    ReplyDelete
  3. Foto2nya banyak & cantik2.
    Semoga bisa berkunjung ke spot2 di atas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silahkan bunda... rekomendedlah tmpat inih.. murahmeriah

      Delete
  4. Bnr2 luwaar biasah kerenn...MasyaAllahπŸ‘πŸ‘πŸ‘
    #ajak2gwdoonkπŸ˜€

    ReplyDelete
  5. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  6. Mengagumkan! Di desa bukit tinggi ada spot cantik dgn pemandangan lembah bukit. Waktu paling pas adalah saat habis hujan, sehingga awan lebih rendah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. tp klo ujan airnya jd keruh kecoklatan pak 😊

      Delete
  7. baru tau air tejun batu nisan ada hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya jg kaget denger namanya bang πŸ˜…

      Delete
  8. Replies
    1. kerenan side.. btw ini siap πŸ˜‚ ?

      Delete
  9. Replies
    1. Om aji mr.busybody.. mn brani kite ngajak πŸ˜‚

      Delete
  10. Bang iqbql kalau ke air terjun ngajak2 dong πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Insyaa Allah... ente jg klo nulis ngajak2lah πŸ˜…

      Delete
    2. ah bang imran jg nulis ga ngajak2.. insyaa Allah besok d ajak bang... kita komporin tim bluebird tuk explore airterjun

      Delete
  11. Desa Bukit Tinggi, kirain tadi sumatra. Tauny di lombok, itu grup WA nya keren-keren dan doyan piknik ya, belum sebulan kaki sudah pada gatel :)
    saya penasaran dengan Aik Kelambu, masak iya kayak jarum jatuh gitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya bang... tp itu mnurut pandangan mata sy yg awam 😊

      Delete
  12. Air terjun atau air mengalir nih....hehehe....lain kali ajakin donk kalau explore..:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Air mngalir sampai jauh akhirnya ke laut πŸ˜…...
      Insyaa Allah

      Delete
  13. Bagus air terjunnya.. Habis lebaran ksini aah klo gak da jdwal trip keluar pulau

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silahkan bang.. deket kok dr Mataram

      Delete
    2. Silahkan bang.. deket kok dr Mataram

      Delete