Saturday, April 22, 2017

Jaga Mata Air Untuk Hindari Air Mata

"Jagaq Enggeran Aiq Umaq Bai Baloq Te Lemak Mudi" itulah tema kegiatan yang saya ikuti kali ini, tema dalam bahasa Sasak yang terjemahan bebasnya berarti jagalah keberlangsungan mata air demi masa depan anak cucu. Kegiatan yang berlangsung pada tanggal 25-26 Maret 2017 dan berlokasi di desa Aiq Beriq Kab. Lombok Tengah ini dilakukan dalam rangka memperingati hari air sedunia yang jatuh pada tanggal 22 Maret, dengan rangkaian kegiatan berupa : Aksi Seni dan Budaya, Wisata Air Terjun, Penanaman Pohon dan Bersih Lingkungan. Dimana pelaksana kegiatan ini adalah paguyuban pemuda setempat (Tastura Guide) bersama dengan komunitas Waterfalls Lombok Lovers.
Selain untuk memperingati hari air, kegiatan ini juga dimaksudkan untuk lebih memperkenalkan destinasi wisata desa Aiq Beriq. Seperti yang kita tahu (terutama untuk mereka yang berdomisili di Lombok), desa ini sudah lumayan terkenal dengan potensi wisata yang ada, yaitu air terjun  Benang Stokel dan air terjun Benang Kelambu. Ternyata oh ternyata, di desa ini masih terdapat beberapa air terjun lainnya. Bila ditotal berarti ada 3 (tiga) air terjun lain yang walaupun tidak setinggi dua air terjun di atas, namun memiliki keunikan tersendiri.

Persiapan Acara
Untuk memastikan rangkaian kegiatan dapat berjalan dengan baik, maka pada hari Minggu 13 Maret 2017, kami mensurvey lokasi kegiatan terutama 3 (tiga) air terjun yang belum famous ini. Judulnya sih memang mensurvey, tapi tetep intinya ya jalan-jalan, he.
Baiklah kita lanjut, akses menuju lokasi (gerbang destinasi wisata) air terjun tidaklah sulit, dari arah kota Mataram terdapat banyak papan penunjuk jalan menuju desa Aiq Beriq. Dengan menempuh perjalanan kurang dari 1 (satu) jam, maka tibalah kita di lokasi. Setelah beramah-tamah sebentar perjalanan kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki, hanya dalam waktu 10 menit menyusuri jalan yang telah tertata dengan baik, maka tibalah kita di lokasi pertama yaitu air terjun Benang Stokel.
Benang Stokel Waterfall

Pengkelep Udang
Setelah puas berfoto dan melakukan pemetaan kemudian perjalanan kami lanjutkan ke air terjun kedua yaitu air terjun pengkelep udang. Lokasi air terjun ini tidak jauh dari air terjun benang stokel, malah sebenarnya lokasi air terjun ini berada sebelum lokasi benang stokel. Hal yang menarik dari lokasi ini adalah air terjun biasa dipakai untuk kegiatan jumping, menguji nyali wisatawan yang berkunjung dengan melakukan lompatan dari atas air terjun dengan ketinggian lebih dari 5 meter. Penasaran ingin mencoba, silahkan datang, dengan biaya tertentu anda dapat menikmati wahana ini. Setelah melakukan assesment kebutuhan, disepakati bahwa untuk menjaga keamanan pengelola akan  menyiapkan SOP dan perlengkapan pengaman.

Perjalanan kami lanjutkan kembali menuju air terjun selanjutnya, Kliwun namanya. Karena lokasi ini memang khusus diperuntukkan bagi wisatawan yang membayar jasa guide, maka lokasi dibuat se-natural mungkin. Kami memasuki hutan wisata, melakukan soft tracking dengan vegetasi yang masih rapat. Perjalanan memakan waktu kurang dari 20 menit, kami pun di suguhi pemandangan yang warbiasahhh,
bertemu air terjun dengan ketinggian 5 meter dan kami  berada di bagian atasnya, melihat ke arah bawah, dan menyaksikan salah satu keagungan Allah SWT dalam bentuk ciptaannya yaitu Pelangi, ya ada pelangi di sana, iya di sana, bukan di bola matamu, wkwk.

Untuk mencapai dasar air terjun, kami harus menuruni bebatuan yang lumayan licin, namun hal itu tidak menurunkan semangat kami. Vegetasi yang rapat, jernihnya air dan suasana yang tenang membuat kami betah berlama-lama di lokasi ini.
kliwun waterfall

Setelah puas melakukan sesi pemotretan dengan model dadakan dan candid-candidan. kami kembali melanjutkan perjalanan menuju air terjun ke-4, air terjun, perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri aliran dari air terjun Kliwun, tidak sampai 10 menit, kamipun tiba di air terjun selanjutnya, dengan ketinggian sekitar 8 (delapan) meter, air terjun Sesera namanya. tempat yang lapang di sekitar air terjun membuat kami memutuskan untuk beristirahat sejenak, tentu saja tidak lupa sesi poto-potoan seperti biasa, namanya juga kekinian :p . Matapun dimanjakan dengan banyaknya capung beraneka warna dan bentuk yang berkelindan di hadapan kami.

sesere waterfall
Puas berbincang dan mengabadikan keindahan keindahan dari berbagai sudut, kami kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini kami menuju air terjun yang sudah banyak dikenal (mainstream). Air terjun Benang Kelambu, itulah nama air terjun ini. Sepertinya tidak perlu dijelaskan mengenai betapa air terjun ini memiliki karakter yang khas dikarenakan bentuknya  menyerupai kelambu. Hal yang menarik adalah, tidak seperti pengunjung biasa yang mencapai tempat ini melalui jalur umum, kami berjumpa dengan air terjun ini melalui jalur susur sungai.

Benang Kelambu waterfall

Apakah perjalanan survey ini selesai? Ternyata belum, kami masih diberikan bonus 1 (satu) air terjun lagi, kali ini dengan waktu setengah jam menyusuri aliran air tanpa henti dan terkadang melewati bebatuan besar dengan diameter sekitar 3-4 meter, kami menuju satu air terjun tersembunyi dengan lokasi yang sangat asri, steril dari polusi, hijau di kanan kiri dan gemericik air yan tenangkan hati. Air terjun Batu Mas itulah namanya. Untuk lokasi ini hanya orang-orang tertentu yg diizinkan untuk mendatanginya, how lucky we are.!
Batu Mas memiliki ketinggian sekitar 6 (enam) meter, dengan tebing batu berwarna keemasan, mungkin itulah kenapa disebut Batu Mas, andaikan warnanya keperakan tentu saja akan disebut batu perak, he.

Batu Mas Waterfall

Cuaca mendung datang, kami pun bergegas pulang, kembali ke titik awal yaitu pintu gerbang (ticketing). Namun diperjalanan, tetiba pasukan hujan datang menyerang disertai petir yang menggelegar dan membuat langit terkadang benderang. Untung saja itu kami sudah berada di lokasi warung-warung sekitar air terjun Benang Kelambu, kami memutuskan berteduh menunggu hujan reda. Selepas hujan berhenti membasahi bumi, kami berjalan kembali menyusuri hutan desa, selang 15 menit kami tiba di persimpangan air terjun Benang Stokel, menengok kiri ke arah air terjun tuk sekedar menyapa, Masya Allah, ada sesuatu yang berbeda, Benang Stokel yang ketika perjalanan awal hanya berupa 2 (dua) curahan air, kini menjadi 3 (tiga) akibat hujan yang baru reda. Kami pun memutuskan untuk mengabadikan momen langka ini tanpa mengindahkan rintik yang datang kembali. Beruntungnya kami!
Benang Stokel setelah hujan

Pelaksanaan 
Rapat demi rapat kami jalani untuk memastikan acara ini dapat berjalan dengan baik. Persiapan mengenai perlengkapan, perizinan, pendanaan hingga hal-hal tekhnis semua dibahas secara maksimal bin detail. Run down acara pun akhirnya berhasil diputuskan dengan beberapa agenda kegiatan dalam waktu 2 (dua) hari pelaksanaan. Bermodal nekad kamipun memutuskan untuk sounding acara ini tepat di Hari Bumi, hanya berjarak 3 (tiga) hari dari pelaksanaan, sungguh nekad apa yang kami lakukan, tapi dengan mengucap Bismillah, kami yakin niat yang baik, tekad, semangat dan harapan yang kuat ikhtiar ini akan mencapai tujuan yang diharapkan.
Sabtu, 25 Maret 2016. Hari H pun tiba, awalnya pribadi agak kecewa karena minimnya peserta. tapi hal itu terobati ketika malam mulai menutupi. Rangkaian kegiatan yang ada  mulai dari pentas musik akustik, pertunjukan musik tradisional klentang, tari kontemporer dan musikalisasi puisi mampu menghibur hati ini.
musik akustik oleh om Wing Sentot dkk (credit by: Nyimas Anita)


Musik tradisional Klentang desa Aik Berik (credit by: Ari Garmono)

Tari kontemporer oleh mbak Indah dan mbak Vika 

Musikalisasi puisi oleh om Winsa (credit by: Ari Garmono)
Minggu 26 Maret 2017, hari masih pagi, namun kami sudah bersiap mengantisipasi peserta yang datang hari ini, akhirnya yang dinanti tiba, rombongan krucil dari pesantren Sirojul Huda Lombok Tengah datang dipandu oleh ustadz Jhellie. Walaupun target peserta tidak terpenuhi, kami bersyukur karena agenda utama dapat terlaksana, menanam berbagai jenis bibit pohon guna keterjagaan mata air, apalagi mayoritas mereka yang menanam adalah generasi muda, generasi harapan bangsa. Target kegiatan lainnya pun tidak terpenuhi, yaitu memperkenalkan alternative paket wisata yang ada. Namun puas terasa di hati, karena telah berhasil menumbuhkan rasa peduli ke generasi pengganti.   Semoga kepedulian ini abadi, mata air tetap terjaga sehingga tak perlu muncul air mata, Aamiin.
credit by: Ari Garmono

credit by: Ari Garmono
By The Way, tulisan ini diposting bertepatan dengan Hari Bumi 22 April, apakah yang sudah kita lakukan tuk memperingati?

"Katakanlah (Muhammad), terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering, maka siapa yang akan memberimu air yang mengalir"  (QS. 67:30).

20 comments:

  1. Acara yang panjang. Andai bisa menjadi bagian dari acara itu pasti seru

    ReplyDelete
    Replies
    1. Besok ikut ga acaranya nanem hari bumi tu.?

      Delete
  2. Semoga kegiatannya tdk berhenti sesuai adanya "hari2 yang diperingati" saja

    ReplyDelete
  3. Seruuuu kak jadi pengen ikutan kalo ada laho

    ReplyDelete
  4. Acara keren! Siap diajak berpetualang lagi

    ReplyDelete
  5. I like your writing style, I like both the humorous and the serious one, please say my hi to the poet.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini bahasa mana..??? Gak ngarti saya mah 😅

      Delete
  6. hati jangan lupa dijaga kak .. wkwkwkwkwk

    ReplyDelete
  7. Awesome..... !!!! Ditunggu review yg lain nih hehe

    ReplyDelete
  8. Ditunggu postingan berikutnya ade bungsu...kereenn 👍

    ReplyDelete
  9. Ditunggu postingan berikutnya ade bungsu...kereenn 👍

    ReplyDelete