Wednesday, February 14, 2018

Tentang Dilan dan Libur Lebaran


 Monas

Tentang Dilan
Jangan rindu
Ini berat
Kau tak akan kuat
Biar aku saja

Ada yang tau quote ini? Bagi mereka yang kekinian otomatis pasti tau lah ya, secara quote ini sempat viral minggu – minggu belakangan. Dilan, dialah sang pemilik quote, tokoh dalam novel karangan Pidi Baiq dengan tema percintaan anak SMA era tahun 1990an  yang kemudian di filmkan dan booming hingga mendarah daging.
Terus apa hubungannya Dilan dengan libur lebaran? Apakah saat Dilan libur lebaran dia datang ke rumah orangtua Milea dan melamarnya?
Pada dasarnya nggak ada hubungannya sih, jelas Dilan tidak pergi melamar Milea, ini hanya bisa-bisaan saya aja cari momentum yang pas, biar tulisan ini dapet viewers yang banyak, he.
Trully,  sebenarnya sayalah yang datang melamar istri saya ketika libur lebaran kemarin. Saya memang bukan Dilan, tapi saya hidup di eranya, masa di mana menunggu surat cinta balasan melalui perantaraan teman membuat deg-degan, atau saat naik angkot bersama gebetan jantung jadi dag dig dug tak karuan, dan puluhan moment lainnya yang bila diingat kembali akan membuat diri merasa malu sendiri, kok bisa ya saya dulu semacam itu.
Jadi, sekali lagi saya tekankan, ini adalah sebenar-benarnya kisah tentang saya, bagaimana saya menjalani libur lebaran dalam suasana suka cita dan akhirnya menikahi istri saya tanpa proses pacaran. Penasarankah? Bagi yang penasaran silahkan dilanjut membacanya, semoga ada ibrah yang bisa didapat, bagi yang mau left juga monggo, tapi baca dulu kisahnya sampai habis (sama aja ya).

Proses Perkenalan
Pagi hari, tanggal 13 bulan Mei tahun 2017, jam menunjukkan pukul 09.40 WITA, saya lupa sedang apa saat itu, tetiba smartphone saya berbunyi, kucluk, begitu bunyinya. Sebuah pesan dari seorang teman di masa SMP  bertanya perihal Pulau Lombok, tempat saya berdomisili. Ini lumrah terjadi seiring dengan makin dikenalnya keindahan Lombok, saya sering mendapatkan pertanyaan dari teman-teman yang berdomisili di daerah-daerah lain. Ketika obrolan tentang Lombok selesai, sekonyong-konyong koder ybs menanyakan status pernikahan saya dan kemudian mencoba mengenalkan saya dengan seseorang yang ternyata adiknya sendiri. Karena status saya saat itu memang jomblo fisabilillah (memperhalus istilah jomblo akut, he), maka saya terima tawaran perkenalan tersebut, tentu saja dengan niatan untuk menikah bila merasa ada kecocokan.
Setelah saya diberikan nomor si do’i, sayapun mulai aktif mengirimkan pesan, bertanya segala sesuatu tentangnya pun sebaliknya. Hal ini berlangsung kurang dari dua bulan, dan Alhamdulillahi Rabbil’aalamiin dengan mengucapkan Basmalah, kami mantapkan tekad untuk coba menapak ke tahap berikutnya.

Merajut Impian Saat Libur Lebaran
Perantau, mungkin itu predikat yang tepat untuk saya (mungkin loh ya). Seperti lazimnya masyarakat Indonesia yang jauh dari keluarga, libur lebaran adalah saat yang tepat mengunjungi keluarga, sungkem dengan orang tua, saudara, sahabat dan handai tolan, itu pula yang biasa saya lakukan. Namun, libur lebaran saat itu terasa lebih istimewa, saya akan berjumpa langsung dengannya. Dia yang akan mengisi ruang hati, temani sepi, berbagi bahagia selamanya. Melalui pesan via smartphone kami sepakati bahwa perjumpaan akan dilakukan H-1 lebaran.
Sabtu 24 Juni 2017 , matahari belum lagi tinggi, dengan mengucap Basmalah, saya mantapkan langkah menuju rumah orangtuanya, dengan  harapan tersemat di dada, bahwa apa yang saya ikhtiarkan mendapatkan ridho dan berkah, dari Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa. Perjumpaan ini adalah kali yang pertama, disaksikan oleh orang tua dan kakaknya. Deg-degan, itu pasti,  tapi Alhamdulillahi Rabbil’aalamiin dengan kuatnya tekad, hal itu tidak menjadi kendala, obrolanpun mengalir bagai air.
Setelah kurang lebih 1 jam percakapan, saya pun pamit undur diri, tentu saja dengan berkeyakinan hati, bahwa dialah yang nanti menjadi penyeimbang dalam hidup ini, bahwa kami akan bersama selamanya, hingga Jannah nanti (Insyaa Allah, Aamiin Yaa Rabb).
Sesampainya di rumah, kami kembali saling mengirimkan pesan, mencoba saling menguatkan dan meyakinkan. Akhirnya, setelah beberapa hari percakapan saling menguatkan dan meyakinkan, didapat kesepakatan bahwa saya akan kembali untuk melamarnya secara pribadi sekembalinya dia dari mudik.
Jum’at 30 Juni 2017, matahari sepenggalan galah, saya kembali melangkah, dengan niat suci, meminta persetujuan orangtuanya  untuk menjadikannya calon istri. Kedatangan saya di sambut dengan hangat, obrolan lancar bercerita seputar perjalanan mudik keluarganya. Namun tetiba, di saat obrolan berlangsung suasana menjadi hening, hati saya pun membatin, inilah saatnya untuk utarakan itikad baik. Kata “ya” yang terucap dari mulut orang tuanya membuat hati ini terasa lega. Akhirnya  satu tahap terlewati. Alhamdulillahi Rabbil’aalamiin.
Sepulang dari rumahnya, saya umumkan kabar gembira ini kepada keluarga, terutama Ibunda. Ya, ihwal kedekatan saya dengan si dia memang tidak saya umumkan sebelumnya, ini saya lakukan karena tidak ingin keluarga terlalu banyak berharap sebelum semuanya pasti. Ketika kepastian sudah saya dapat baru saya akan bermaklumat, begitu fikir saya waktu itu.

Bersepeda Gila di Ibukota
“Kak, ayo kita sepeda’an hari Minggu (Car Free Day)” , sebuah pesan masuk dari si dia. Saya bingung harus menjawab apa, menolak takut ybs tersinggung, menerima takut hubungan ini ternodai, agak alay memang jika mengganggap hubungan akan ternoda hanya karena bersepeda, apalagi kami tidak berboncengan. Namun sejatinya saya hanya berusaha menjaga hubungan ini tetap suci, saling menjaga diri hingga tiba waktunya nanti. Setelah melalui perenungan panjang, saya putuskan untuk mengiyakan ajakan tersebut, dengan syarat posisi saya harus selalu berada di depannya selama berkendara (walaupun akhirnya pada beberapa moment si dia berada di depan saya). Saya bukan sok suci, sok alim atau apalah. Dengan masa lalu yang lumayan mengharu biru, saya hanya berusaha menjadi pribadi yang lebih baik menurut agama yang saya anut.

Minggu subuh, Sang Surya belum menampakkan hidungnya, kami sudah mulai mengayuh sepeda. Awalnya saya mengira jarak yang akan kami tempuh dekat, ternyata oalah, kami bersepeda kurang lebih 25 Km. Rute yang kami tempuh tidak tanggung-tanggung, berawal dari Perumnas Klender Jakarta Timur melintasi Rawamangun, Tugu Proklamasi hingga tiba di Bundaran HI untuk makan pagi. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju masjid Al-Azhar di Jakarta Selatan. Perjalanan pulang kami putuskan melewati Sudirman lalu masuk ke arah Manggarai kemudian memutar ke Tebet dan berakhir di jalur BKT.  Hufffht, cape deh.
 Untuk mereka yang hoby bersepeda hal ini mungkin biasa saja. Tapi untuk saya, momen ini terasa gila, ampunnya tak tertahankan, pegal terasa di seluruh badan. Namun itu tidak saya tunjukkan, gengsilah, masa kesan pertama terlihat lemah, he.
Ada ujar-ujar lama mengatakan, bila ingin mengetahui karakter asli seseorang, lakukanlah perjalanan bersama yang melelahkan, di saat lelah itulah maka karakter asli akan terlihat. Itu pula yang terjadi pada episode perjalanan bersepeda gila saya. Dalam perjalanan pulang, lelah mulai terasa, di sanalah sifat asli muncul, dan dari sanalah kami bisa saling mengoreksi dan instropeksi. Saya bersyukur, tak perlu waktu bertahun-tahun untuk mengetahui karakter orang yang akan saya nikahi, cukup satu hari, ya cukup satu hari dengan cara bersepeda gila di ibukota.

Lamaran dan Menikah
Libur telah usai, saya pun harus kembali menjalani aktivitas, namun tekad dalam hati untuk mempersunting si dia sudah begitu kuat. Setelah beberapa kali rembug, akhirnya disepakati lamaran oleh keluarga (saya tidak hadir) dilangsungkan pada awal September, dan syukurlah semua berjalan lancar, dan waktu itu disepakati pernikahan akan dilangsungkan tanggal 07 Oktober 2017. Alhamdulillahi Rabbil’aalamiin semua berjalan lancar. Saya dan Umi Kulsum akhirnya resmi menjadi pasangan suami istri. Semoga abadi…
Aamiin Yaa Rabb...



Dilan,
Rindu itu berat
Apalagi bila diiringi syahwat
Terutama bila kata SAH belum kau semat
Karena bisa jadi akan berujung maksiat



 oh iya berbicara tentang liburan silahkan klik link ini, keren abis guys.

18 comments:

  1. Semoga sakinah - mawaddah - warrohmah ya bang.

    Salam buat nyonyah..
    Kapan ngeteh berjemaah.

    ReplyDelete
  2. Semoga rumah tangga yg dibina bisa tetap selaras dengan apa yg diharapkan om. Suka betul dah tulisan ini 😊

    ReplyDelete
  3. Ciee...uhuyy..sukak dgn kata2 terakhir...😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hampir semuanya komen yg sm.. Alhamdulillahi Rabbil'aalamiin

      Delete
  4. 😊😊Kereeennnn..pi tdi banyak ketikanyaπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚...pi bagusπŸ‘πŸ‘πŸ‘

    ReplyDelete
  5. Kok pas elo nanya gmn cara mas ngelamar gw ga di masukin ke tulisan πŸ˜‚
    Betewe bagus....bikin gw nyengir2 sendiri inget elo pake baju item putih pas ngelamar dah kaya mo ospek πŸ˜„

    ReplyDelete
  6. Dilan dan milea sesungguhnya πŸ˜€πŸ‘

    ReplyDelete
  7. Makin mateng kulitnye...eh tulisannya

    ReplyDelete
  8. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  9. Replies
    1. Jazakallah ukhti πŸ™

      Jangan baper yaks πŸ˜‚

      Delete
  10. Haduh, jadi pengen liburan klo bisa begini mah

    ReplyDelete